Dongeng

"Kamu tahu dongeng bawang merah sama bawang putih ngga?" Tanyaku kepada kedua sepupuku, yang satu berusia 12 tahun satunya lagi berusia 8 tahun, keduanya serempak bilang "Engga".
"Kalau Si jubah Merah?" 
"Engga"
"Snow White?Cinderella? 3 Babi Kecil?"
"Engga"
Saya menarik nafas panjang sambil geleng-geleng kepala anak-anak sekarang lebih hapal robot-robot di transfomer dibandingkan tokoh-tokoh dongeng, saya memandang sedih kedua sepupu saya lalu mulai menceritakan dongeng yang mereka pilih dengan bahasa saya yang ala kadarnya. 
Waktu kecil saya suka baca dongeng, bude saya kalau pulang dari kota suka membawakan saya buku-buku cerita dari mulai beauty and the beast, snow white, sleeping beauty, putri dan pangeran angsa, the little marmaid dan banyak lagi. Kalau cerita-cerita asli Indonesia seperti Bawang merah bawang putih, Ande-ande lumut, Panji semirang, Timun mas saya tahunya dari televisi atau buku-buku di perpustakaan sekolah. Dulu waktu saya MI ada salah -satu stasiun televisi yang menayangkan dongeng dari Indonesia. Sayang sekali acara-acara seperti itu sudah tidak ada.
Saya inget banget bapak saya pernah satu kali mendongeng untuk saya. Cerita yang belakangan saat mulai "gede" saya baru tahu kalau waktu itu bapak saya menceritakan dongeng dengan mengarang bebas pantes agak-agak engga nyambung tapi kenangan yang walau hanya sekali itu masih saya ingat sampai sekarang. Oke abaikan!
Kata Psikolog nih ye mendongeng akan membentuk anak mampu berempati, rangsangan akan lebih baik jika dilakukan dengan merangsang indera pendengaran dibandingkan visual dengan pendengaran dan cerita yang memiliki pesan positif anak-anak akan jadi lebih peka terhadap perasaan orang lain. Nah selain merangsang anak untuk berempati , manfaat mendongeng lainnya juga bisa menjadikan akan lebih imajinatif terus mengutip kata-kata om Albert Einstein imajinasi lebih berharga dibanding pengetahuan. Logika akan membawa anda dari A ke B Imajinasi akan membawa anda kemana-mana.
Suatu hari nanti jika ada umur dan ada kesempatan saya ingin mendongeng untuk anak-anak saya atau setidaknya mencekoki anak-anak saya dengan buku-buku dongeng biar mereka pinter berimajinasi kaya om Einstein ^0^ *Tujuan Mulia* *Pilihan Ibu Bijak*

Me Vs My Sister

Usia kita hanya terpaut 3 tahun dan kita sangat berbeda. Rasanya jika dicari titik temunya antara gue dan dia ya ngga bakalan ketemu gue seperti makhluk yang berasal dari merkurius dan dia dari pluto. Aneh. Padahal kita punya satu ibu dan satu ayah *liat Surat Keterangan Lahir*. Sedarah. Yang bikin gue yakin dia adik gue cuma satu yaitu kesamaan kita yang mempunyai tinggi mentok diangka 150 cm :P.


Selamat Datang Kembali Kim Heechul

#welcomebackheenim itu yang sempat jadi TTWW hari ini. Udah 2 tahun ternyata salah satu bias gue di suju akan segera kembali dari wajib militernya. Member yang memiliki wajah sangat ayu ini akan selesai menjalani wajib militernya tanggal 31 Agustus 2013. Nyesek banget kalau liat dia selalu lebih cantik dari gue, manusia paling narsis di SUJU ini juga suka banget memangil dirinya dengan sebutan cinderella >.< hadeuh... oppadeul yang satu ini emang benar-benar unik, tapi bagaimanapun dia, seberapa ga jelasnya seorang KIM HEECHUL.. we always love him..
Welcome Back Our Cinderella
Snow White

Cinderella

In Military

Lebih Manis dari Gula

Melting.. Cetakan Mana Cetakan X_X
^

Spirit Maker

Setu Babakan 28 August 2013 11.23 PM

Aku kenal orang itu dari dulu sejak kelas dua SMA tapi baru ketemu tanggal 2 syawal 1434 H kemarin. Bibirnya tidak pernah lepas dari senyum setidaknya itu yang paling aku ingat selama kurang dari 30 menit pertemuan pertama itu. 
Aku dan dia suka saling menyemangati. Ketika aku butuh bahu dia salah satu orang yang aku teriak-teriaki lewat sosial media :p atau misalnya saat dia benar-benar lagi galau aku orang yang siap  menepuk-nepuk bahunya pake emoticon (emang ada gitu emoticon yang nepuk-nepuk bahu?). seperti adik ke kakak atau sebaliknya. Sejak dulu aku pengen punya kakak cowok dan sejak dulu pula dia pengen punya adik cewek. cocok ^^v setidaknya untuk saat ini.
"I'm Back" Status dia beberapa hari yang lalu. Ceritanya dia mau ngilang gitu dari seseorang tapi menurut aku itu ngga berhasil, buktinya aku ngga ngerasa dia kemana-mana. hahaha..harusnya kalau mau ngelupain seseorang atau menghilang dari seseorang itu mbok ya yang total, hapus nomornya, uninstal sosial media yang bisa menghubungkan dengan orang tersebut atau bila perlu ganti hp yang bisa buat  sekalian senter, gitu ngga sih?
hemmm... jatuh cinta sendirian emang sakitnya luar biasa, bro.. be strong ya.. suau hari nanti kamu pasti bisa nemuin seseorang yang juga mencintaimu, jadi kamu ngga cape hati..

Aku    : Mas mungkin ngga karena kita terlalu deket makanya tuh cewek ngga mau nyamperin kamu?
Mr.E  : ah.. engga lah, San Mungkin ngga karena kita terlalu deket makanya tuh cowok ngga mau nyamperin kamu?"
Aku      : *Ngakak* Insya Allah engga, Jangan jatuh cinta sama aku ya?
Mr. E   : Hahaha...Masa Incest gitu?

Ah.. my brother.. mari sama-sama bilang untuk orang yang kita suka "Suatu hari nanti jika dia melihat kita bahagia, dia akan menyesal pernah membiarkan kita jatuh cinta sendirian"

Perbaiki diri... perbaiki diri..

Begitu Saja

Pancoran, 27 Agustus 2013 00.17 AM


Pada bait lagu dan puisi tanpa diksi
Secangkir kopi yang masih menyisa wangi
Seteguk demi seteguk …
Aku memungut jejakmu..

Lebih dari lima detik
Aku tertegun tepat di matamu..
Mengekori gerak bibir yang meliuk
Suara merdu tanpa rima.. tanpa rasa

Meski suatu masa yang langka
Waktu sepertinya berlalu  begitu saja..
Aku… tak pernah merasa puas..

Tak bisa merasa puas..

Jatuh cinta diam-diam

Setu Babakan 26 Agustus 2013 05.38 PM

6 tahun lalu.... 
"Gadis SMA kelas X itu selalu duduk didepan pintu kelas, matanya bersiap menengok ke kelas lain yang terletak di ujung, Kelas XI. Matanya awas mengintai, dia berharap seseorang yang namanya terus-menerus ia sebut di dalam hati muncul barang hanya 1 detik, dan kemunculan orang itu secara ajaib menghilang perasaan sesak di dadanya. Senyumnya mengembang seketika"

5 tahun lalu...
"Kini Gadis itu telah naik ke kelas XI. Kabar yang ia terima hari ini mengguncang perasaannya.  seseorang yang namanya terus-menerus ia sebut di dalam hati telah memiliki seorang kekasih. Adik kelasnya. Ia sama sekali tidak menitikkan air mata. Hanya lantunan doa yang dia panjatkan, kebiasaan mengintainya dari jauh seseorang yang namanya terus-menerus ia sebut didalam hati masih selalu ia lakukan, karena dari situ ia merasa bahagia"

4 tahun lalu...
"Gadis itu sekarang kelas XII, Berita duka itu ia dengar dari guru bahasa indonesianya, seseorang yang namanya terus-menerus ia sebut didalam hati pergi untuk selama-lamanya. Konon katanya karena kanker Paru-paru . Ia menulis sambil menitikkan airmata. Innalillahi Wa inna ilaihi Roji'un"

“Pada akhirnya, orang yang jatuh cinta diam-diam hanya bisa mendoakan setelah capek berharap, pengharapan yang ada dari dulu, yang tumbuh dari mulai kecil sekali, hingga makin lama makin besar, lalu semakin lama semakin jauh. Orang yang jatuh cinta diam-diam pada akhirnya menerima. Orang yang jatuh cinta diam-diam paham bahwa kenyataan terkadang berbeda dengan apa yang kita inginkan. Terkadang yang kita inginkan bisa jadi yang tidak kita sesungguhnya butuhkan. Dan sebenarnya, yang kita butuhkan hanyalah merelakan.  Orang yang jatuh cinta diam-diam hanya bisa, seperti yang mereka selalu lakukan, jatuh cinta sendirian."Marmut Merah Jambu -Raditya Dika -

Parfum dan Memori

Setu Babakan 25 Agustus 2013 11.33 PM

Sering saat mencium wangi sesuatu secara tidak langsung otak akan me-link an dengan suatu peristiwa atau seseorang di suatu masa di waktu yang lalu. Hal kaya gini nih kata ilmuwan emang wajar, soalnya di bagian otak kita ada yang namanya sistem limbik yaitu sistem yang mengatur kenangan dan perasaan. Jadi masih kata ilmuwan nih ya.. ada hubungan yang erat antara reseptor penciuman dengan sistem limbik. Hubungan yang harmonis ini menyebabkan orang bisa dengan mudah mengingat kapan pertama kali mencium wangi tertentu, serta mengingat apa yang pernah dirasakan pada saat itu.
Saat parfum berasa jadi mesin waktu, memutar kenangan ke satu titik dimana saya pernah berada disana, seolah-olah wangi itu hanya milik moment itu atau seseorang itu saja. Tapi hal kaya gini jadi nyiksa banget kalau moment atau orang itu bener-bener bukan sesuatu yang pengen kita ingat. Saat saya mencium wangi tertentu ada dua yang yang bisa saya pastikan. Pertama senyum bisa mengembang kedua air mata meluruh, dan soal hati saya benar-benar ngga bisa milih kenangan seperti apa yang akan membayang di pelupuk mata. 

Mudah-mudahan.. wangi yang aku hirup beberapa hari ini hanya akan menyisakan senyum manis yang terkembang di masa yang akan datang.. Aamiin..

Jendela Dapur dan Langit Selatan

Setu Babakan, 24 Agustus 2013 10.50 WIB
Aku menatap jutaan bintang dilangit selepas subuh dari balik jendela dapur yang langsung menghadap ke halaman rumah bagian belakang, langsung ke langit selatan. Dari celah-celah daun jambu yang rimbun aku mencoba mengintip dan membentuk dengan pikiranku tiap bintang sambil menebak mungkinkah bintang-bintang itu membentuk rasi yang ku kenal?
Itu yang sering aku lakukan, saat masih tinggal di Brebes, di rumahku. Langit selatan selalu membuatku tertegun lebih lama, bukan karena aku tidak menyukai langit utara, barat atau timur tapi karena kebiasaan selepas subuh aku sering menemani simbah masak, hanya menemani tidak membantunya. Saat menemani itu aku selalu membuka jendela dapur lebar-lebar, jendela itu langsung menyajikan pemandangan magis, langit selatan dengan jutaan bintang yang mempesona. Aku jadi merasa melankolis. Merasa hidup didunia novel, film dan sebangsanya. 
Pernah suatu kali saat aku masih SMP aku pinjem buku  di perpustakaan, aku meminjam buku yang berisi gambar-gambar rasi bintang dan nama-namanya. Saat malam tiba dan jutaan bintang membentang memenuhi langit halaman depan rumah. Aku berdiri di tengah-tengah halaman menatap langit dan membuka buku itu, Setiap rasi yang aku temukan di buku, aku cocokan dengan bintang langit malam, beberapa aku temukan (meskipun aku ngga yakin benar apa engga) tapi lebih banyak yang aku ngga nemu.
Saat aku merantau ke Jakarta dan segala kerumitannya. Aku benar-benar tak sempat melongok langit malam. Baru beberapa hari ini sadar ada satu perbedaan yang amat mencolok antara langit Jakarta dan Langit Brebes. Di langit Brebes aku akan sangat kesulitan mengitung jumlah bintang setiap malamnya, tapi di Jakarta aku akan dengan mudah merapalnya dengan jari, tanpa mesin hitung tanpa kalkulator. Mungkin langit jakarta yang miskin bintang itu karena polusi cahaya yang tinggi. Aku tak tahu.. yang jelas tiba-tiba aku merindukan saat itu, saat aku menatap langit dari balik jendela dapur, menembus rerimbunan pohon jambu,  angin semilir yang menyentuh pipiku pelan sambil menelisik langit selatan duluuuu..sekali..


Ini Impian Gila Saya Atau...

Setu Babakan, 23 Agustus 2013 10.38 PM

Tadi siang nonton wideshot metro tv ada kisah tentang orang-orang yang tinggal di pinggir rel KRL , tentang Pak Sodik yang memilih untuk tinggal dengan kedua anak dan istrinya di tempat yang dianggapnya rumah, padahal itu hanya terpal yang ditempelkan ke sebuah pagar tembok dan kayu sebagai salah satu tiangnya. Tidak perlu sampai menunggu narator membacakan asal Pak Sodik, dari cara dia bicara dan dari bahasa yang dia gunakan. Pasti. Saya langsung bisa menebak kalau bapak itu berasal dari Brebes, Tempat yang sama dimana saya berasal. 
Sehari-hari Pak Sodik menjual sayur di pasar yang terletak (juga) di pinggir Rel. Sedih melihat bapak dan anak-anaknya berjalan diatas rel tanpa alas kaki dengan badan yang sepertinya jarang mandi. lusuh dan kumal. 
"Kalau bisa memilih aku lebih suka jadi petani, pulang ke kampung dan menanam bawang atau kalau aku punya uang lebih aku ingin tinggal di kontrakan yang lebih layak" Kata Pak Sodik. Bahasa Indonesia-nya kerap dicampur dengan bahasa Brebes yang "Ngapak". Ketika ditanya apa bapak tidak takut tinggal di pinggir rel yang berbahaya Bapak itu menjawab " kenapa takut, udah terbiasa. anak-anak aja ngga takut" dia tersenyum tapi saya merasa getir. KRL baru saja lewat dan rambut kemerahan anak-anak Pak Sodik yang digarang matahari tertiup angin. Sering pengen membentuk suatu komunitas yang mengajar anak-anak itu, mengajari membaca atau sekadar mendongeng, tapi bingung mulai dari mana.
Melihat mereka saya sedih sekaligus bersyukur, sedih karena selama 68 tahun Indonesia merdeka, kesejahteraan warga-nya hanya dapat dirasakan oleh kalangan tertentu. Bersyukur kerena saya bisa sekolah sampai setinggi ini, salah satu pencapaian tertinggi di keluarga saya.
Setiap melihat kisah-kisah mereka yang kurang beruntung, saya selalu tergelitik ingin melakukan sesuatu yang lebih, kerja bakti untuk ikut membantu negara ini. tapi apa? kadang saya merasa merasa ini pikiran gila yang hanya bisa saya ucapkan tanpa melakukan apa-apa. Hanya sesumbar tanpa wujud nyata. Melihat teman saya yang sekarang jadi aktivis saya merasa kecil. Dia bisa melakukan sesuatu untuk masyarakat. Mengapa saya tidak? Apa yang saya bisa baktikan untuk negeri ini? 
Suka mikir pengen jadi pengajar muda yang siap ditempatkan dimana saja selama satu tahun untuk mengajar di sekolah-sekolah di pelosok Indonesia, tapi mengingat saya punya beberapa tanggung jawab sebagai seorang anak kepada orang tuanya, saya jadi mikir lagi. Rasanya cukup dilematis mengabdi untuk negeri tapi melupakan bakti pada orang tua. Duh...
Waktu itu sempat senang pengen ikut Kelas Inspirasi yaitu kegiatan yang mewadahi para profesional pendidikan dari berbagai sektor yang telah sukses untuk ikut berkontribusi yang nyata dan aktif dalam perbaikan pendidikan di Indonesia. Jadi para profesional itu masuk ke sebuah SD dan mengajar disana selama satu hari untuk menginspirasi siswa-siswi agar termotivasi untuk memiliki mimpi yang besar. Kelas Inspirasi hanya butuh waktu satu hari, tidak satu tahun seperti pengajar muda tapi harapan langsung luruh pas baca syaratnya kalau mau gabung jadi pengajar Kelas Inspirasi yaitu harus bekerja di bidangnya minimal dua tahun. Lha saya? Baru 7 bulan!! saya membutuhkan 17 bulan lagi untuk bisa ikut jadi pengajar KI. 
"Ngga marah-marah sama pasien aja sudah cukup" kata seseorang kepada saya, saat saya mengeluhkan gimana caranya berbuat sesuatu untuk Indonesia. Jadi bidan memang profesi yang mulia tapi saya selalu merasa kalau jadi bidan adalah lahan saya untuk mencari materi walaupun bagi sebagian orang "mulia" juga bisa diartikan sebagai tabungan di akhirat, entah naluri saya selalu menentang untuk itu. Padahal dengan modal saya yang itu saya bisa jadi ujung tombak untuk menurunkan Angka Kematian Ibu dan bayi dan PR terbesar saya adalah menjadi bidan yang bener-bener bidan dengan memiliki kompetensi selayaknya bidan, Bidan Sungguhan. Tapi.. (lagi-lagi) saya benar-benar pengen ngajar, pengen mendongeng, pengen membantu "anak-anak" Pak Sodik yang lain mengajari mereka matematika sederhana dan ikut dalam wujud nyata mencerdaskan kehidupan bangsa.. bagaimana saya harus memulainya? 
"Ngga marah-marah sama pasien aja sudah cukup" kalimat itu berdengung-dengung dikepala saya, nampaknya saya harus lebih realistis. 

Rindu

Jika boleh di hitung
Setiap detik dimasa ini adalah akumulatif kerinduan 
Yang merangsek naik ke sukma
Kata rindu itu hanya bisa aku sampaikan pada Sang MahaMencinta
Berharap, ada balasan yang lebih baik atas kehormatan perasaan ini..


Jakarta, 12 August 2013 14.43 WIB 
Ketika kerinduan itu tak tertanggungkan




Hari Bersejarah

Coret-coretan gue sambil nungguin Ka Elly
Gue akan mencatat tanggal ini. Tanggal 21 Agustus 2013 sebagai tanggal yang bersejarah dalam kehidupan gue selama umur gue 21 tahun. Jadi hari ini untuk pertama kalinya gue nari dan pentas di panggung. Kita (Gue, ka Elly, Mba Lita, Ka Ayu, Ka Feby) cuma latihan 4 hari!! coba bayangkan??. Tragedi ini bermula saat gue lagi nyetor uang KJS ke Bu Emi. Ka Elly datang tergopoh-gopoh (Halah!) narik-narik lengan baju gue suruh ke aula. Pas nyampe aula, Ibu gue, Bu Resti yang notabene kepala RB langsung nyeletuk "Udah san, ikut aja, kamu kan biasa ikut lomba"
HAH?? gue syok dong. "lomba sih lomba tapi bukan lomba nari juga, Bu" hati gue menjerit, secara gitu udah lama banget ngga nari terakhir pas SMA kelas dua dan itu udah 4 tahun yang lalu, Kawan. Nari pas SMA itu juga syarat doang karena kebetulan gue masuk IPA dan pelajaran keseniannya emang nari jawa dalam artian gue ngga beneran niat nari, mau ngga mau lah..
Singkat cerita akhirnya gue nari. NARI  BENARAN ! latihan hari kedua udah bagus-an. pas tampil didepan Big Bos dia bilang apa coba? gerakkannya suruh di tambah, harus lebih enerjik!! MATI KUTU lah kita, secara dengan latihan yang tinggal 2 kali lagi, penambahan gerakkan rasanya tantangan yang cukup berat. Akhirnya kita berkorban. berkorban ngga ikut halal bi halal, berkorban untuk ngga makan gratis :P (karena pas kita latihan, kita mutusin buat latihan nari dirumah Pak Ramli nah di waktu yang bersamaan ada acara halal bi halal di puskes dan ada acara makan-makannya, duh...)
Dan setelah 4 kali latihan. Kita pasrah. Gerakkan kita emang ngga kompak. Jujur gue juga suka lupa memposisikan gue sebagai mana mestinya, hari ini kita tampil yang pertama sebagai pembuka (gue baru tau ternyata ada banyak yang nampil nari hari ini, engga cuma dari puskes gue). Kata temen gue, agak berantakan tapi ya sudahlah.. kita usahanya udah mentok abis ko (membela diri :P). Gue berharap semoga tarian-tarian setelah penampilan gue lebih buruk hahahaha... jahat banget ya tapi Allah Maha Baik, Dia ngga ngabulin doa gue yang ngawur, penampilan selanjutnya malah bagus-bangus (yaiyalaaah.. secara gitu mereka nari tarian yang sama dengan tarian yang pas mereka ikutan lomba dengan orang-orang yang sama pula, sementara kita, bener-bener dari NOL *atur napas* *abaikan* )
Diujung acara, kita makan-makan. Horeee.. kata Ka Feby ini bagian yang paling penting, Gue setuju banget, abis makan-makan itu ada pembagian door prize. Gue ngga ngarep soalnya jujur selama gue hidup dan ikut acara yang yang ada doorprize-doorprize an gue ngga pernah dapet. Tapi hari ini emang bener-bener harus jadi hari yang bersejarah buat gue. Gue dapet doorprize walaupun bukan nama gue yang pertama dipanggil harusnya tuh doorpirze yang dapet orang lain tapi karena mereka udah pulang ya.. akhirnya namaku kepanggil. Nunggu giliran cuy hihi .... isinya cuma jam dinding yang "standard" cuma gue seneng bukan kepalang, ini dooprize pertama gueeeee.... *nangis haru* 
Jam Standard :P sengaja gue atur jam nya jadi pukul 03.07 biar kaya di pilem "The Conjuring" hahaha..

Well.. dari peristiwa beberapa hari ini gue belajar banyak, salah satunya ya.. kita ngga akan pernah tau hasilnya sebelum mencoba..dan kalau mau dapet dooprize kita harus bertahan, jangan pulang duluan hihii...
But hari ini gue juga sedih pake banget malah, bukan cuma karena penampilan kita ngga perfect tapi karena seseorang itu ngga liat gue nari, ngga liat 'lenggokkan" gue yang bikin puyeng dan kepala kliyeng-kliyeng.. huhuhu... 

Aku, Hujan dan Sapardi Djoko Damono

Segalanya seperti mimpi
kujalani hidup sendiri
andai waktu berganti
aku tetap tak'kan berubah

Aku selalu bahagia
saat hujan turun
karena aku dapat mengenangmu
untukku sendiri....

Lagu itu udah jadi original soundtrack setiap aku nyetir si merah setiap berangkat dan pulang kerja. Aku merasa suaraku bagus banget kalau lagi nyanyi lagu itu. hahaha Pede amat. 
Aku jatuh cinta sama hujan. Jatuh cinta sejak mulai mengenai Sapardi Djoko Damono seorang pujangga terkemuka yang walaupun menggunakan kata-kata sederhana tetapi selalu apik bahasa puisinya. Di karya-karyanya kamu bakal banyak nemuin kata hujan, pohon, basah, langit, kartu pos, rumput hijau bahkan perahu kertas. Aku belajar banyak dari puisi-puisi beliau. Walaupun hasilnya ya ga seujung kukunya..hihi. Ini aku post in salah satu puisi karya beliau. Jatuh cintalah segera..

Membebaskan Hujan

Ada yang ingin menjaring hujan
Dengan pepatah-petitih tua
Yang tak lekang meski basah-
hujan buru-buru menghapusnya
Ada yang ingin mengurung hujan
Dalam sebuah alenea panjang
Yang tak kacau meski kuyup
hujan malah sibuk menyuntingnya
ada yang ingin membebaskan hujan
dengan telapak tangan
Yang jari-jarinya bergerak gemas-
hujan pun tersirap: air mata


Manis 'kan?  ^o^

Kita Ini Salah

Soto Ayam Gang Senggol
Brebes, 2 Syawal 1434 H

Aku dan kamu kembali ke tempat itu, tepat setahun berselang. Awalnya aku tidak menginginkan pertemuan itu. Tidak. Karena yah..tentu saja pertemuan itu tidak dibenarkan. Aku hanya ingin memberikan batasan yang jelas pada hubungan ini. Hubungan yang hanya mentok di kata "teman". hanya teman..tapi aku benar-benar membutuhkan bantuanmu saat itu jadi kupikir apa salahnya meminta tolong ? 
Aku mengamatimu. Detail. Senyummu terlihat lebih manis sekarang selain itu tidak ada yang berubah. 
"Kita ini salah" kataku ngotot sambil mengibaskan jari telunjukku. Kamu hanya membalasnya dengan senyum cengengesan. khas mu. Beberapa detik mata kita berpandangan. aku kalah kemudian memutuskan untuk mengaduk susu cappucinno. Pesananku.
"Aku  juga tahu.. tapi mau bagaimana lagi?" aku membeku. meresapi pikiranku sendiri. 
"Yang tahu hanya aku, kamu dan Tuhan" katamu lagi. Aku setuju kali ini. 
"Jadi kapan kita akan berhenti?" tanyaku menggoda.
"Saat aku dan kamu mempunyai pasangan masing-masing, saat itulah kisah ini berakhir" aku mengangguk beberapa kali lalu menatap jam dinding yang menyeringai masam.
"Mari pulang.." Ajakku padamu.

Lirik Lagu Rayuan Pulau Kelapa

Saya pertama kali dengar lagu ini pas kuliah itu juga karena saya ikut paduan suara wisuda kakak tingkat saya. Entahlah apa karena saya yang terlalu kuper atau bagaimana yang jelas selama saya 15 tahun menempuh pendidikan baru tahun ke 14 saya mendengar lagu ini. Telat banget kan? pertama dengar langsung jatuh cinta. Rasa nasionalisme saya langsung membuncah. lebay deh..

Rayuan Pulau Kelapa

Tanah air ku Indonesia
Negeri elok amat ku cinta
Tanah tumpah darahku yang mulia 
Yang ku puja sepanjang masa

Tanah air ku aman dan makmur
Pulau kelapa nan amat subur
Pulau melati pujaan bangsa
Sejak dulu kala

Reff.
Melambai-lambai
Nyiur di pantai
Berbisik- bisik
raja kelana

Memuja Pulau
Nan indah Permai
Tanah air ku
Indonesia...

Dan dalam setiap doaku yang panjang, aku berharap kita tidak pernah bertemu

Dan dalam setiap doaku yang panjang
Aku berharap kita tidak pernah bertemu
karena.. kamu membawa lebih dari yang seharusnya
karena.. kamu menyakiti lebih dari yang sewajarnya
karena.. kamu menikamku lebih dari yang selayaknya
karena.. kamu mengoyakku lebih dari yang semestinya

Dan dalam setiap doaku yang panjang
Aku berharap kita tidak pernah bertemu
Karena aku harus mengikhlaskan banyak
Karena aku harus mengorbankan banyak
Karena aku harus melepaskan banyak
karena aku harus menitikan banyak

Dan dalam setiap doaku yang panjang
Aku berharap kita tidak pernah bertemu
karena kita adalah sesuatu yang dipaksakan..
karena kita adalah sesuatu yang terlalu dituntutkan..
karena kita adalah sesuatu yang terlalu dicocok-cocokan..
karena kita adalah sesuatu yang terlalu disama-samakan..

Dan dalam setiap doaku yang panjang
Aku berharap kita tidak pernah bertemu...
Agar yang hilang tak pernah ada
Agar yang kepunyaan tak pernah musnah
Agar yang melekat tak pernah luruh
Agar yang putih tak pernah ternodai

Dan dalam setiap doaku yang panjang...
Aku berharap kita tidak pernah bertemu...
Tidak pernah bertemu.. 


17 Agustus dan tahun-tahun lalu yang lepas

saya yang tengah * Eh penting ya?? hihi
Setu Babakan, 17 Agustus 2013


"Dirgahayu Republik Indonesia yang ke-68 saya mencintaimu apa adanya" ini tweet pertama saya hari ini. Indonesia, negara dimana saya pertama kali menghirup napas dan mungkin terakhir kali menghembuskan napas. Saya sadar saya bukan warga negara yang baik. saya tidak bisa memberikan kontribusi yang banyak buat negeri ini. saya ngga pernah ngapa-ngapain buat Indonesia. saya selalu menyusahkannya lagi dan lagi..
Tujuhbelasan tahun ini ngga ada yang spesial. Hari ini saya cuma sibuk nyetrika baju ( ini salah satu bakti pada negeri bukan ya? :p). Karena ngga ada yang spesial makanya saya nulis blog ini saya pengen mengenang tujuhbelasan tahun-tahun lalu yang lepas. 
Pas saya MI saya selalu ikut karnaval di sekolah, walaupun sampai kelas 4 saya cuma disuruh pake baju pramuka sambil bawa tongkat dari bambu kecil yang ujungnya ada bendera merah putihnya. Nah dalam rangka untuk menyambut hari ulang tahun kemerdekaan RI seperti pada umumnya sekolah saya juga mengadakan lomba. Saya cuma sekali ikut soalnya saya kalah tenar dibanding teman-teman saya (padahal emang ngga pernah mau :P ) satu-satunya lomba yang pernah saya ikuti yaitu lomba menggiring balon dan ngga MENANG. Saya ngga semangat banget waktu itu (balonnya genit banget sih lari-lari kesana kemari) jadi pas udah nggiring mpe tengah saya berenti. teman-teman saya yang mendukung didepan garis finish menatap saya sedih. hahaha...
Masuk ke masa SMP saya lebih beruntung. Saya ikut jadi anggota Marching Band (bener ga si kaya gini tulisannya?) saya megang Balera. Jadi saya ngga pernah jadi yang aneh-aneh pas karnaval (Thanks God) tapi karena sekolah saya jadi tuan rumah peyelenggara upacara tujuhbelasan se kelurahan ya tiap hari jadi panas-panasan buat latihan.. ngga apa-apa wis.. bakti pada negeri. *benerin topi*
Masa SMA begitu menyedihkan.. ngga ada yang saya lakukan selain ikut upacara tujuhbelasan di Sekolah dan bikin bunga-bunga an dari kertas kreps buat menghias kendaraan karnaval sekolah, mengingat tubuh saya terlalu "mungil" untuk jadi anggota paskibra dan saya juga kalah pamor dibandingkan teman-teman ya.. saya terima dengan hati lapang semua kegiatan ituuh! biar sedikit nelangsa tapi ngga apa-apa lah pengorbanan itu kebayar soalnya sekolah saya menang terus lomba menghias kendaraan karnavalnya, langganan juara satu se kabupaten Brebes *prokprok* lagi-lagi BAKTI PADA NEGERI. Tapii tunggu! saya pernah ikut lomba tarik tambang pas SMA, waktu itu saya kelas dua , kelas saya juara 2 *Horeeeeee* Dapet hadiah Bo.. jingkrak-jingkrak pas nerima tapi pas dibuka taraaaaa jeng jeng jeng ternyata isinya celana kolor .. hahahaha.. 
Pas kuliah.. saya jadi penitia ospek. Nah Lho terus apa hubungannya dengan peringatan HUT Kemerdekaan RI? ya Ospeknya dilaksanain pas bulan Agustus jadi ya suasanya masih merah putih gitu so.. pas saya jadi panitia , Ospeknya ada lomba-lombanya juga. gitu.. (aneh banget ya nanya sendiri dijjawab sendiri ) 
dan sekarang saya udah kerja. perayaaan kemerdekaan RI cuma nyetrika baju.. sedih.. sedihnya nambah lagi pas liat " Happy Bday Indonesia" jadi No.1 TTWW. Lha terus kenapa kamu sedih San? iya lah kenapa harus Happy Bday? kenapa engga selamat ulang tahun?  kenapa engga Dirgahayu HUT RI yang ke 68? mungkin engga masalah bagi sebagian orang tapi buat saya ini sensitif banget.. menurut saya karena yang ulang tahun Indonesia ya bahasanya harus bahasa Indonesia. gitu ngga sih?  *tanyakan pada rumput yang bergoyang*
dan daripada kita mencemooh atau merasa malu dengan keadaan bangsa ini yang masih berkembang2 aja dari dulu sampai sekarang alangkah baiknya jika kita menyisipkan doa untuk Indonesia, Negeri elok yang amat ku cinta semoga mampu melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa serta ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Aamiin...  semua itu cuma bisa dilaksanakan kalau kita bekerja bersama-sama untuk kepertingan bersama.. sekali lagi Dirgahayu Kemerdekaan RI yang ke-68 , saya mencintaimu apa adanya *kepada sang saka merah putih hormaaaaaaat graaaaakkkk * 



Tuhan.. Terimakasih..

Setu Babakan, 16 Agustus 2013


Berasa sakit pas liat foto itu, padahal gue ngga punya hak buat sedih sama sekali, ga mendasar juga kesedihan gue, karena bagaimanapun gue yang jelas-jelas menolak kehadirannya. 
Gue ngga habis pikir, mahkluk yang bernama cowok kenapa suka banget obral omongan gede yang belum tentu dia bisa penuhin, 
"cuma kamu yang gue sayang"
"cuma kamu yang ngga bisa gue lupain" 
"aku dah berusaha nyari yang lain tapi tetep dia ngga bisa gantiin kamu"
Halaaaaah Kambiiiiiiing!!!
emang bener kali, jangan janji kalau lagi seneng karena semua bakal mudah banget ngomongnya. *tari nafas*.
Nyesek.. awalnya dikit terus lama-lama malah ngga sengaja air mata netes. gue sedih karena gue bodoh banget pernah percaya omongan manusia kaya dia. Sedih banget sempet bela-belain dia didepan ortu gue. 
"Tuhan sayang sama kamu san..Dia nunjukin dengan gamblang kenapa kalian berdua seharusnya pisah, sayang air matamu, biarkan ia ngalir kalau kamu kelilipan aja, tak perlu diingat-ingat, masih banyak kesempatan yang lebih, makin banyak bertemu dengan orang yang memiliki watak yang berbeda jadi lebih banyak pengalaman dan Insya Allah jadi lebih bijak dalam bersikap, realistis aja, toh semua udah terjadi life must go on.. ngga ada yang salah, semuanya normal karena orang yang memutuskan untuk terikat suatu hubungan percintaan sadar selalu ada resiko sakit hati sebagai konsekuensinya. simpen air matamu untuk keharuan yang akan kamu dapatkan nanti" Duh.. sohib gue Mr. T bijak banget. gue merasa lebih baik. air mata gue langsung kering. gue langsung bisa senyum. Tuhan... makasih telah mempertemukan gue dengan manusia-manusia berhati malaikat yang membuat hidup gue lebih asyik..

Kali pertama aku jatuh cinta padanya


Setu Babakan, 10 Agustus 21013 7:18 PM

Kurang lebih 5 tahun, aku nyari buku ini, buku yang bikin aku jatuh cinta langsung sama penulisnya, Asma Nadia. Pertama kali aku ketemu tuh buku di Perpustakaan Daerah Brebes yang lokasinya ngga jauh dari SMA Negeri 2 Brebes, SMA-ku . Saking bagusnya tuh buku pas aku aku udah selesai baca, buku itu keliling secara ajaib dari tangan ke tangan sampai antar kelas.
Buku ini menceritakan tentang cewek jilbab yang tomboy bernama Jo yang pacaran sama Kas. Jo belum pernah pacaran dan sama sekali tidak minat. Beda banget sama Kas yang sejak SMU sudah punya gebetan. Jo, anak terakhir dari empat bersaudara yang semuanya cewek. Ketiga kakaknya juga berjilbab, tapi kepribadian mereka beda banget dengan kelakuan Jo sehari-hari yang tomboi dan seenaknya sendiri. Jo bahkan menyebut mereka `makhluk steril`karena kakak-kakaknya itu "akhwat" banget. Masalahnya, cowok bernama Kas itu ganteng banget. Wajah indo, tubuh tinggi, dan penampilannya keren abis! Wajar kalau Kas jadi rebutan cewek-cewek di kampus. Dan bukan hanya fisik, Jo juga menemukan kesungguhan yang mengagumkan pada diri cowok itu. 
Buku yang ngga cuma menyajikan tentang kisah cinta Jo sama Kas, tapi juga dibumbui sama kisah persahabatan (ciri buku bunda Asma Nadia  yang ngga melulu tentang cinta). 
Buku yang sebenarnya islami banget tapi dibikin dengan sangat gaul, unik dan kocak . Pesannya pun tidak menggurui, bahasanya ringan dan ngga perlu mikir lama buat memahami setiap katanya. Nih ya kalau ngga percaya aku ketik in petikan percakapannya Jo sama Kas yang kocak.
***
Stasiun UI Depok, 2003
Jo dan Kas bertemu lagi. Setelah tahun-tahun SMU yang lepas. sekarang keduanya sudah kuliah, tingkat dua.
"Apa kabar, Jo?" sapa Kas.
"Alhamdulillah, baik, kamu?"
"Never been better"
Jo dan Kas saling pandang, mengamati dan menemukan tak banyak perubahan di keduanya. Hanya kerudung kecil yang sekarang menutupi rambut panjang Jo yang biasa dikepang dua. tapi selebihnya...
"Kamu masih senang pakai baju cowok!" cetus Kas tertawa.
Jo berkilah," Siapa bilang jins pakaian cowok?"
"Aku"
"Dan kamu masih senang pakai baju cewek!" Jo mencibir. Kas ganti tertawa.
"Siapa bilang turtleneck milik cewek?"
"Aku, Barusan"
Keduanya tertawa. lalu menebus masa lalu yang terlewat dengan berbagai cerita. Kas si anak tunggal, bercerita tentang kebijaksanaan baru papi dan maminya.
"mereka sekarang tak lagi khawatir melepasku di jalan, Jo. setelah kuliah aku kemana-mana diizinkan naik kereta, padahal aku lagi enjoy-enjoynya diantar-jemput, hehe. apalagi udah bisa bawa mobil sendiri."
sedang Jo bercerita tentang kakak-kakaknya. kegigihan mereka yang akhirnya berhasil meluluhkan cewek itu.
"Baru dua bulan pakai kerudung, Kas"
"Boleh dibuka ngga kalau gerah?"
Jo tertawa.
"Ini komitnen seumur hidup, Bung! Gak lah. Makanya aku kan mikir banget waktu mau make. Ternyata.. oke aja kok. lebih panas di neraka, begitu kata kakakku selalu bilang"
Betul juga. Kas mengangguk-angguk.
"Orangtuaku tak terlalu dalam soal agama Jo. Jadi..."
"Jadi?"
"Jadi, yah..." Kas menggantung kalimatnya. Menatap Jo yang menunggunya penasaran. "jadi aku gak diharuskan pakai jilbab seperti kamu!"
Hihi.. bisa melucu juga Kas sekarang
***
Aku nemuin buku ini di situs gramediaonline.com pas lagi nyari buku "Ketika Mas Gagah Pergi-nya" mba Helvy Tiana Rossa. Lucky Me.. yang muncul malah buku itu. Seneng banget pas nemuin, harganya cuma 10.000. ditambah ongkir 8.000. pas buku itu nyampe ke rumah, aku jingkrak2, senyum lebaaaar banget sampe-sampe orang rumah bingung,. Terimakasih banget sama pak ekspedisi yang dateng tepat sebelum aku mudik ke Brebes. Yeeeay...