Menulis lagi menulis terus


Kutuliskan kesedihan semua tak bisa
kau ungkapkan dan kita kan bicara dengar hatiku
Buang semua puisi antara kita berdua 
kau bunuh dia sesuatu  yang kusebut itu cinta
-Nidji-

Menulis bagi gue adalah semacam terapi. Saat gue sedih gue nulis, saat gue merasa kecewa gue nulis juga, saat gue nemuin sesuatu yang touched di hati gue masih nulis, saat gue dijalan terus ujan, ya gue berteduh-lah. #halah.

Belakangan.. gue amat sangat pasrah sama hidup. Gue udah nemuin zona nyaman yang bikin gue terlena. Sebenarnya gue tau ini adalah dangerous alarm. Ngga ada target dalam hidup, ngga ada mimpi-mimpi yang berderet-deret, ngga ada ide-ide buat ditulis dan gue merasa otak udah terjadi penurunan fungsi memori yang drastis, buktinya tiap gue dapet info baru gue gampang banget lupa.
Semakin gue asik asik aja dengan hidup, semakin mati otak gue.  Dan lo tau dong ? kalo otak udah mati it means mati juga jiwa raga gue. Oh NOOOO !!!

Orang boleh pandai setinggi langit,
tapi selama ia tidak menulis,
ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.
Menulis adalah bekerja untuk keabadian.
-Pramoedya Ananta Toer-

Dulu gue pernah bercita-cita jadi penulis. Gue tertarik sama dunia cerpen, novel dan puisi. Pertama kali nulis sampe selesai itu kelas 4 SD. Dibaca sama teman sekelas gue, doi antusias bingits. Responnya bikin gue semangat nulis. Sampe-sampe gue ikutan kursus komputer cuma biar bisa ngetik tulisan gue.

Topik yang paing sering gue tulis adalah seputar percintaan remaja. Kelas satu SMP dapet tugas guru bahasa Indonesia bikin cerpen. Gue bikin tokoh perempuannya memiliki cinta yang tak terbalas dan berakhir dengan ending ketabrak mobil. Yaps.. gue ngaku dari dulu gue emang mellow, galau dan ngga penting. Mungkin karena ceritanya terlalu dewasa dibanding umur si pengarang, cerpen tersebut ngga menang cama cekalii.. huahahahahaha. Gue sadar. Gue terlalu tua dari umur gue.

Lanjut ke kelas dua SMP, gue dapet tugas buat bikin puisi tentang tsunami Aceh. Salah satu puisi terpilih bakal dikirim ke majalah sama guru gue. Lagi-lagi gue ngga lolos. Kata pak guru beliau tau mana puisi beneran dibikin sama anak SMP, mana yang dapet nyadur. Gue bertanya-tanya mungkinkah puisi gue termasuk didalam bagian yang terlihat seperti menyadur ? Mungkinkah bahasa gue lebih tua dari bahasa anak SMP ? Waktu itu gue pengen nanya kenapa puisi gue ngga masuk cuma gue ngga berani. Gue takut jawabannya malah bikin gue males ke Sekolah. Jadi gue cuma ngelampiasin kekecewaan gue dengan naik pohon jambu belakang rumah teriak kenceng sambil jambak-jambak rambut Kenapaaaa Tuhaaaaaaaaaaaaaaaan ? kenapaaaa hidup ini tak adil ??

Pengalaman menulis yang bikin gue bangga campur geli sampai sekarang adalah pas gue didapuk bikin puisi buat acara perpisahan kakak kelas SMA. Temanya tentang persahabatan dan guru. Rencananya puisi bakal dimusikalisasi biar dramatisir-dramatisir gimanaa gitu.  Pertama kali gue sodorin puisi gue katanya kurang panjang, akhirnya gue tambahin lagi baitnya. Yess bos im so amateur. Gue sempet pusing, gue ngga pernah bikin puisi sepanjang itu dengan tema yang hampir ngga pernah gue pake. (pokoknya tema gue cinta-cintaan mulu deh).

Saat acara berlangsung dan temen gue ngebawain puisinya, kakak-kakak kelas tuh bukannya pada nangis malah pada ketawa gara-gara lihat ekspresi temen gue yang sangaaaaat total (ekpresi, suara dan gaya tubuhnya menurut gue yaaa..bagus-bagus aja.). Mereka ngga ada sedih sama sekali, mereka malah sahut-sahutan ngeledekin temen gue. Huft...

Abis acara kelar temen gue bilang terimakasih dan bilang kalau dia sampe nangis baca didepan. Gue ngangguk-ngangguk aja karena gue ngga liat airmata dia secara panggungnya tuh jauh banget dari temapt gue duduk. Jujur gue aja ngga sedih sama sekali ngeliatnya tadi. Entahlah.. barangkali hati gue emang terbuat dari batu akik jenis bacan.

Gue juga pernah ikut pelatihan menulis dari grup yang gue ikuti di fb. Waktu itu tiap peserta suruh bawa karyanya masing-masing. Nanti diforum terbuka tulisan gue bakal dibaca dan dikomentarin. Do you know apa kata mereka? Tulisan gue engga bangeeeet. Ancur daaah!!

Beberapa orang bilang suka sama tulisan gue dan berharap gue bisa melebarkan sayap. Burung kali! But gue juga ngga bisa mengindahkan fakta bahwa setiap gue ngirim karya ke media gue ngga pernah nembus dan ketika karya gue dibaca sama seseorang yang profesional, Kata mereka karya gue tuh masih perlu banyak perbaikan.

Engkau campur baur dan seringkali kabur
 namun aku mencatatmu untuk rindu
lalu kucoba melupakanmu
-Taufiq Ismail-      
                                         
Gue sementara berhenti ngirim tulisan ke media. Tulisan gue tebar di blog ini doang. Suatu hari nanti pas gue punya anak, gue bakal kasih email sama passwordnya, biar doi yang ngelanjutin perjuangan menulis emaknya. Sebab galau-pun harus dengan cara yang anggun. (hoeekkkkkk cuh cuh cuh)

Menulis itu seperti berlibur.
Lakukan dengan sesuka hati
-Asma Nadia-






Mahabharata dan tragedi cinta Dropadi

Pembukaan

Kau akan mengawini lima pahlawan terbesar dalam masamu. Kau akan menjadi ratu dari segala ratu, dicemburui semua dewi. Kau akan menjadi pelayan. Kau akan menjadi penguasa istana paling hebat lalu kehilangan itu,
Kau akan diingat karena akan menyebabkan perang terbesar pada masamuKau akan menyebabkan kematian raja-raja jahat dan anak-anakmu serta kakakmu. Sejuta perempuan akan menjadi janda gara-gara kau. Ya. Memang kau akan meninggalkan jejak pada sejarah.Kau akan dicintai, meskipun kau tidak selalu tahu siapa yang mencintaimu. Meskipun kau mempunyai lima suami, kau akan mati sendirian, ditinggalkan pada akhirnya sekaligus tidak ditinggalkan(Istana Khayalan, 69)
Tadinya cerita wayang sejauh gue tahu cuma nama-namanya aja kayak Yusditira, Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa, Korawa, Abimanyu, Gatot Kaca dan lain-lain (jumlahnya cuma seemprit). Di otak gue, mereka tuh ngacak-ngacak gitu. Gue ngga tau posisinya sebagai apa didalam cerita Mahabharata. Padahal sejak jaman SD ada pelajaran bahasa Jawa, pelajaran yang didalamnya kadang nyeritain tentang  wayang. Saat itu gue menganggap bahwa cerita tentang mereka ‘ngga penting’ sampai suatu sore di perpustakaan umum  gue nemuin buku The Palace of illusions karya Chitra Benerjee Divakaruni buku pertama yang gue ambil dari rak dan membuat gue jatuh cinta.

The Palace of illusions adalah kisah Mahabharata yang diceritakan kembali oleh Chitra dari sudut pandang Dropadi. Berawal dari kelahiran Dropadi dari dalam api lalu bergulir ke perkawinan dengan lima pandawa sekaligus, pengasingan di hutan dan kehilangan kerajaan karena sifat semborono Yudistira yang berujung pada perang antar saudara, Perang Bharatayudha

santi,s file

Si Pengubah Sejarah dan tiga nasihat yang dilupakan Dropadi
Tiga saat berbahaya yang akan datang kepadamu. Pertama tepat sebelum pernikahanmu: pada saat itu tahanlah pertanyaanmu. Yang kedua pada waktu suami-suamimu berada di puncak kekuasaan mereka pada saat itu tahanlah tawamu. Yang jetiga akan datang waktu kau dipermalukan dengan hebat seperti yang belum pernah kau bayangkan pada saat itu tahanlah kutukanmu.(Nasihat Byasa untuk Dropadi hal. 69)

Berawal dari permintaan Raja Drupada kepada Dewa. Ia memohon  seorang anak lelaki untuk membalaskan dendamnya pada Resi Drona, mantan sahabatnya. Namun Dewa tidak hanya memberikan seorang anak laki-laki saja, bersama kelahiran Drestadyumna, Dropadi pun lahir dari dalam api. Saat itu Dewa mengatakan bahwa Dropadi akan mengubah sejarah. Dropadi yang merasa dirinya memiliki kelebihan dibanding wanita manapun tumbuh menjadi gadis pemberontak, kritis dan cerdas. Kelahirannya yang tidak begitu diharapkan kerap kali membuat Dropadi menerima perlakukan berbeda, bahkan dalam memilih pendamping hidup, ayahnya mengadakan sayembara (biasanya putri kerajaan di jodohkan) barangsiapa yang bisa menembus logam ikan dengan menggunakan Kindhara (Busur paling berat yang pernah ada) hanya dengan melihat dari bayangannya dari kolam air yang berputar, ia berhak meminang Dropadi.

Belum ada yang berhasil menembus logam ikan tepat ditengah. Saat giliran Karna maju, Drestadyumna, kakak Dropadi, meminta agar Karna duduk kembali. Ia menganggap Karna tidak pantas mengikuti sayembara sebab Karna berasal dari kasta rendah (ia ditemukan oleh kusir istana di Sungai Gangga saat masih bayi). Karna menolak dan hampir saja terjadi perkelahian. Melihat situasi menegangkan, Dropadi yang ingin mencegah perkelahian Karna dan Drestadyumna maju kedepan dan bertanya siapa nama ayah Karna karena bagi Dropadi mereka yang mengikuti sayembara tersebut haruslah jelas asal usulnya. Karna yang tidak bisa menjawab tertunduk malu dan mundur. Nasihat pertamapun dilanggar ; Dropadi tidak dapat menahan pertanyaanya.

Hasil akhir Arjuna yang memenangkan sayembara tersebut, ia membawa Dropadi kerumah (Pandawa dan ibundanya menyelamatkan diri dari kelicikan Korawa dengan bersembunyi di pinggir kota dan hidup sederhana). Pandawa mengatakan bahwa ia membawa sesuatu, dari dalam rumah yang lapuk tanpa melihat dulu, Ratu Kunti (Ibunda pandawa lima) mengatakan bahwa apapun yang mereka bawa harus dibagi sama rata. Meski dalam hati Pandawa dan Dropadi tidak setuju, mereka tetap melakukan apa yang dikatakan oleh Ratu Kunti. Dropadi menikah dengan lima pandawa sekaligus.
Pernikahan Dropadi dan Pandawa tersebar luas hingga ke Hastinapura (Negara yang diperintah Korawa) setelah tahu bahwa Pandawa masih hidup, Bhisma mendesak agar Dretarasta (ayah korawa) membagi negara mereka menjadi dua.

Pandawa mendapat bagian negara yang gersang dan kosong. Bersama istrinya mereka membangun istana yang sangat megah dan membuat Korawa iri. Saat Duryudana (Korawa paling tua) berkunjung ke istana mereka, ia tercebur ke kolam, melihat itu Dropadi tertawa, tawanya memicu sahabatnya mengejek Duryudana. Nasihat kedua dilanggar Dropadi.

Suatu hari Duryudana gantian mengundang Pandawa main ke Hastinapura untuk melihat istananya yang baru. Disitulah tragedi terjadi ketika Yudistira berjudi dan mengorbankan seluruh yang ia miliki termasuk Dropadi. Saat Dropadi dipermalukan karena bajunya dibuka paksa dihadapan orang banyak ia mengutuk Korawa.

Kalian semua akan mati dalam pertempuran yang akan timbul gara-gara kejadian hari ini. Ibu-ibu dan istri-istri kalian akan menangis jauh lebih mengenaskan daripada aku. Seluruh kerjaan ini akan menjadi mayat. Tidak ada satupun ahli waris korawa akan tersisa untuk memanjatkan doa-doa bagi kaumnya yang mati. Yang akan tinggal hanya ingatan memalukan tentang hari ini tentang apa yang coba kalian lakukan terhadap perempuan tidak berdaya, aku tidak akan menyisir rambutku sampai saat aku membasuhya dalam darah kurawa
(Istana Khayalan, 272)

Nasihat yang ketiga pun dilanggar Dropadi tidak dapat menahan kutukannya.
Setelah kejadian itu, Pandawa dan Dropadi yang sudah tidak memiliki apa-apa diasingkan ke hutan selama 12 tahun ketika masa itu habis mereka mengumpulkan kekuatan dan berperang melawan Korawa. Peperangan dahsyat yang menimbulkan semua pasukan Korawa mati dengan kemenangan di pihak pandawa.
Kunta-wijaya.blogspot.com

Cinta terpendam Dropadi

Kalau dalam pewayangan jawa, dikisahkan Dropadi hanya menikah dengan Yudistira (mungkin karena pengaruh dari masuknya islam ke pulau jawa) sedangkan menurut versi Byasa (India) Dropadi menikah dengan lima pandawa sekaligus. Selama ini kita menganggap meski Dropadi menikah dengan Kelima Pandawa namun cinta Dropadi hanya untuk Arjuna seorang (sama kaya sinetronnya yang ada disalah satu TV Swasta). Berbeda dengan kedua versi tersebut dalam The palace of illusions, seseorang yang dicintai Drupadi hanya Karna seorang. #hasekk
Nah, Sebelum sayembara pernikahanya dilaksanakan, Dropadi terlebih dahulu melihat calon peserta dari lukisan yang dibawa oleh seorang seniman. Saat melihat lukisan Karna,  Dropadi merasa ada getaran halus dari dalam dadanya.
Meskipun berada di tengah keluarga istana, dia keliatan begitu sendirian. Perhiasannya hanyalah sepasang anting-anting emas dan tameng dengan pola tidak lazim yang pernah kulihat. Matanya dipenuhi kesedihan dimasa silam. Kedua mata itu seperti menarikku masuk kedalamnya. Ketidaksabaranku hilang, aku tidak ingin lagi melihat potret Arjuna. Sebaliknya aku ingin tahu tampaknya sepasang mata itu kalau laki-laki itu tersenyum. Anehnya aku ingin menjadi penyebab senyumnya. (halaman 108)
Sejak saat itu Dropadi memendam perasaan pada Karna. Dropadi bahkan masih tetap memikirkannya setelah ia menikah. Ia kerap kali membayangkan bagaimana seandainya Karna berada disisinya, ia percaya bahwa Karna tidak akan melakukan hal yang mengecewakan seperti suami-suaminya.

Pandawa dan titik kekurangannya

Sejak gue baca novel ‘Pulang’ karya Leila S. Chudori gue emang udah ngga bersimpati sama Pandawa (terutama Arjuna). Yudistira yang termakan nafsu hingga mempertaruhkan seluruh yang dia miliki di meja judi. Bima yang tidak bisa mengendalikan dirinya saaat marah. Arjuna penyebab Ekalaya memotong ibu jarinya karena memiliki kemampuan memanah melebihi Arjuna. Kesombongan Sadewa karena pengetahuannya. Kebanggaan Nakula atas ketampanannya. Gue ngga bisa banyangin pada saat Dropadi ditarik kain sarinya oleh Korawa, mereka cuma bisa diam aja.  
Disini gue sampai pada suatu kesimpulan bahwa dengan segala kelebihan dibanding manusia lain ternyata mereka juga memiliki kekurangan #ngangguk2

www.kaskus.co.id

Hikmah yang perlu dipungut

Sebenernya gue agak sebel karena Dropadi sangat ambisius untuk balas dendam. Dia sering ngompor-ngomporin Pandawa biar selalu inget sama kutukan Dropadi agar semangat mereka tidak luntur buat balas dendam. Karena tukang kompor itulah Dropadi menjelma jadi istri yang tukang ngomel. Dalam versi Chitra di lubuk hati pandawa yang paling daleeeeem mereka tidak ingin perang melawan saudara mereka sendiri tapi nafsu dan gengsi mereka lebih tinggi dibandingkan logika. Dan yang paling gue ga juga suka, kenapa pandawa nurut banget sama Dropadi? sebagai lelaki mereka tuh harus bisa ngambil sikap, kalau misalnya cewek ngelakuin sesuatu yang ngga bener ya mesti dilurusin dong, jangan apa-apa maunya dia dituruti. #halah kok gue jadi emosi?
Jadi dari situ gue berdoa, kelak kalau gue jadi istri semoga gue ngga menjerumuskan suami gue kearah yang ngga benar. Hihi..

Terus siapa menurut gue Ksatria sesungguhnya di Mahabarata versi Chitra Banerjee Divakaruni?

KARNA 

Kenapa doi? Bayangin deh dia adalah anak dari Ratu Kunti dengan Dewa Matahari (jadi masih saudaraan sama pandawa) nah segera setelah lahir Kunti membuang Karna ke sungai karena saat itu dia belum siap punya anak. Karna dipungut dan dibesarkan oleh kusir istana. Pas dia mau belajar bela diri ke Resi Drona (Guru pandawa) dia ditolak dengan alasan doi berasal dari kelas rendah. Akhirnya dia belajar sendiri ke Parasurama (Guru nya Resi Drona) dia ngaku sebagai Kaum Brahmana (rohaniawan) , ia jadi murid paling disayang sampe dapet mantra yang ngga bisa dikalahin siapapun. Sehari sebelum Karna pergi dari pedepokan Parasurama, Karna nawarin pangkuannya buat jadi bantal gurunya tidur, terus ada kalajengking yang iseng gigit paha Karna sampai berdarah, karena ngga tega bangunin gurunya, Karna diem aja. Pas gurunya bangun, Karna malah dikutuk. Dia menuduh Karna menipunya, sebab menurut gurunya hanya kaum ksatria (kaum bangsawan) yang mampu menahan gigitan kalajengking.

Pas lagi sedih-sedihnya abis dikutuk, ia ngga sengaja membunuh sapi. Sebagai orang yang bertanggung jawab dia nemuin yang punya sapi dan nawarin ganti rugi, si pemilik yang marah mengutuk Karna lagi. Duh apes banget sih kamu, bang?

Walaupun dia dibesarkan oleh seorang kusir, Ia dikenal sebagai ksatria yang paling dermawan. Ia berjanji akan memberikan apapun yang dia punya jika ada yang memintanya. Ia bahkan menyerahkan baju besi kepada dewa yang menyamar menjadi manusia, padahal baju itu satu-satunya yang bisa menyelamatkannya dari Arjuna. Karna udah menderita sejak ia dilahirkan, tidak diakui oleh ibunya, dikutuk oleh gurunya sendiri, memendam perasaan cinta pada perempuan yang menjadi istri adik-adiknya. Kunti pernah menawarkan Dropadi untuk menjadi istrinya seandainya Karna mau bergabung dengan Pandawa, Namun yang bikin gue salut ia bisa menahan diri untuk tidak memiliki Dropadi yang setengah mati dicintainya sejak pertama kali ketemu. Bagi Karna, janji adalah segalanya. Dia udah bersumpah bakal membantu Duryudana sampai akhir walaupun dia harus melawan adik kandungnya. Karna juga satu-satunya ksatria yang bisa menahan godaan dari kaum perempuan yang bahkan Pandawa ngga bisa lakuin.
www.hinduhumanrights.info

At last..
Bisa jadi karena penulisnya super duper jenius atau mungkin harus ada sesuatu yang ‘menjual’, menurut gue (seseorang yang amatir banget mengenai literature) Chitra berhasil menunculkan tragedi cinta antara Karna dan Dropadi. Yupz.. Mereka berdua saling mencintai tapi tidak bisa saling memiliki. Ketidaktahuan dan keangkuhan keduanya membuat jurang yang menganga diantara mereka. Dan menurut gue kisah cinta semacam itu sesuatu yang WOW banget sama kaya kisahnya Fahri dan Nurul di novel ayat-ayat cinta milik Kang Abik.


1000% keren banget ini buku. Recommended ^^








Salam Kenal, BROMO!!

The Beginning

Pada tanggal 2 April 2015 merupakan hari yang bersejarah buat gue. Ini pertama kalinya gue bolos masuk kerja cuma buat jalan-jalan. Sebenernya gue udah punya itikad baik buat masuk kerja setengah hari namun apa daya, pas gue mau berangkat kerja kereta listrik dari Bogor mengalami gangguan, alhasil hingga jam 7 gue masih terkatung-katung di Stasiun Lenteng Agung. Daripada masuk telat mending gue balik lagi ke rumah.

Perjalanan Bersama Sahabat

Stasiun Senen adalah tempat Meeting Pointnya. Gue berangkat kesana bareng Mba Etik. Gue baru tahu , ngga ada kereta dari Bogor langsung ke Senen. Kalau mau naik KRL ke Senen lo musti transit di Manggarai terus naik kereta kearah Bekasi baru  turun di Stasiun Jatinegara, setelah itu nyambung kereta ke arah Pasar Senen, emang sih keliatan ribet tapi ya memang harus dijalani. Pukul 14.00 WIB gue nyampe Stasiun, disana Yari udah nunggu dengan muka lesu karena dateng paling awal. Yang bikin kita dag dig dug jeger adalah Tanci belum juga nyampe padahal kereta berangkat 45 menit lagi, kabarnya dia kejebak macet. Dan tau gak kejadian yang bikin kita pengen ngejedotin kepala ke tembok? Ternyata dia nyasar ke Stasiun Kota. STASIUN KOTA MEN!! Jelas-jelas cuma dia yang tiket keretanya dijadiin DP, Eh bisa-bisanya dia yang malah nyasar ke Stasiun Kota.  Hadeuh.. akhirnya kita nyuruh dia cabut segera naik ojek.
Teman seperjalanan gue yang ngga kalah seru adalah seseorang bernama Mba Maya. Dia orangnya nyentrik abis. Lo pernah liat ngga cewek bawa carrier super gede tapi pakenya rok mini? Nah begitulah gayanya Mba Maya, karena dandanannya, gue pikir dia artis tapi ternyata dia manusia biasa yang sering eror juga. Belakangan dia dijuluki princess sama anak-anak karena paling heboh dengan dandanannya.

Pelajaran Berharga

Menurut informasi yang kita dapet katanya harga makanan di dalam kereta itu mahal makanya sebelum kereta berangkat kita mutusin buat beli bekal makan minum keluar stasiun. Kita keluar agak dan ngga berhasil nemu alfamart, Akhirnya kita balik dan mutusin buat beli di alfamart dalem stasiun. Tau ga yang bikin gue merasa jatuh dan ngga bisa bangkit lagi? Pas didalem kereta si Tanci beli minum aqua dengan harga tiga ribu rupiah. TIGA RIBU RUPIAH!! Gue, Siska dan Yari berpandangan tak percaya. Kita udah muter-muter ampe keluar stasiun beli aqua seharga EMPAT RIBU. Yassalam.. pelajaran berharga bahwa ternyata harga makanan di dalam kereta itu standar aja. Pop mie 7000 rupiah, Kopi 5000 rupiah, Nasi Rames pake ayam harganya 17.000 rupiah, biarpun porsinya ngga banyak tapi menurut gue harganya pas lah dikantong.

Lagi-lagi kejadian tak menyenangkan di Jalan

Gue pikir naik kereta bakal tepat waktu dibanding perjalanan gue kemaren waktu ke Dieng, ternyata gue salah. Longsor di Purwodadi membuat kereta gue ngga bergerak lama di Stasiun setelah Semarang (gue lupa namanya) kita tertahan lama banget. Harusnya kita nyampe Stasiun Malang pukul 07.50 tapi kita malah nyampe Malang jam 12.00 WIB.
Di deket Stasiun Malang jalan dikit ke sebelah kanan ada sebuah tempat singgah yang welcome banget buat para traveler dan backpacker (maaf tapi gue lupa namanya pokoknya tempatnya tuh didominasi warna item dan oranye terus ada tulisa welcome traveler dan backpacker gitu deh L). Harga makanannya lumayan murah dan yang paling penting lo bisa mandi dan ngecas gratis di tempat itu biarpun lo ga pesen apa-apa. Rombongan kita makan dan istirahat sebentar disitu sebelum melanjutkan perjalanan ke Tumpang.

Hai Malang :*
Dahsyatnya Body Tubing di Sungai Amprong

Sekitar pukul 13.40 WIB kita sampai di Homestay, perjalanan dari Stasiun Malang ke Tumpang sekitar 1 jam. setelah rebahan bentar jam 15.00 WIB kita berangkat menuju Sungai Amprong buat body tubing. Jalanan menuju Sungai Amprong cuma bisa di lalui pake hardtop dan motor trail. Soalnya jalanannya nukik dan tanahnya liat gitu. Sebelum body tubing kita mesti bawa bannya naik ke atas tempat start. Pas lagi jalan ke atas gerimis turun. Hati gue langsung nyanyi OST Ninja Hatori yang mendaki gunung lewati lembah sungai mengalir indah ke samudra bersama teman bertualang. #asik.
Before Body Tubing
Body Tubing di Sungai Amprong
Yes Misi Selesai!
Jalanan selepas hujan membuat hardtop susah naik, hardtopnya sampe ngepot gitu, anak-anak pada teriak coz disampingnya itu jurang, beberapa temen gue memutuskan turun dan melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki sampe ke jalanan yang lebih datar. Jam 18.10 WIB kita sampai di Home Stay terus istirahat.

Membeku di Penanjakan 1

Jam 23.30 kita dibangunin buat nanjak. Asli badan masih remuk tapi apa boleh buat kalau kita pengen dapet tempat parkir paling atas kita musti datang cepet karena katanya nih kalau kita datang telat itu bisa dapet parkirnya jauh banget dari penanjakan. Itu artinya lo musti naik keatas dengan jalan kaki.
Jam 00.09 WIB kita berangkat naik Hardtop lagi. Kita membelah tebing dan jurang, sepanjang jalan kita juga ditemani oleh tanaman obat jenis adas dan pemandangan kota malang dengan kerlap kerlip lampunya. Subhanallah.. itu keren banget. Sekitar 00.52 WIB kita sampai di Desa Ngadas, desa terakhir sebelum sampai Bromo. Setelah melewati Desa Ngadas kita membelah kabut menyusuri Padang Savanna, Pasir Berbisik, Bukit Teletubies dan Gunung Batok. Nyampe penanjakan satu belum begitu ramai, disana banyak orang menyewakan jaket tebal dengan harga antara 10.000 sampai 20.000. Nyampe atas dingin banget. Gigi gue gemeletukan padahal udah pakai jaket dan kaos kaki dobel, menunggu matahari terbit kita peluk-pelukan sambil nyoba tidur biarpun gagal. Lama-lama penanjakan satu jadi rame banget berasa di pasar, ini mah nonton orang bukan nonton sunrise gumam gue.
Maka nikmat Tuhan-mu manakah yang kamu dustakan?

Kacang Bunciiiisss ^^
Turun dari penanjakan sekitar pukul 05.30 WIB kita langsung menuju Kawah Bromo, cuaca lagi bagus, Gunung Batok dengan kabutnya menyajikan pemandangan yang epic banget, sayang karena kita naik hardtop kita ngga bisa turun seenaknya buat mengabadikan pake kamera, kalau nyewa motor bisa lebih leluasa suka-suka. Oiya kalau nyewa hardtop sekitar 700 ribu bisa muat 7 orang sedangkan kalau motor sekitar 250 ribu bisa buat dua orang dan itu belum ditawar lho ya..
Pemandangan dari Penanjakan 1

Kawah Bromo, Bukit Teletubies, Padang Savana dan Pasir Berbisik

Menuju kawah bromo kita musti menaiki tangga-tangga kecil berwarna kuning, jarak parkiran dan kawah bromo cukup jauh jadi kita jalan dulu. Banyak bapak-bapak menawarkan jasa naik kuda, kalau dari parkiran jeep mereka mematok harga 50 ribu tapi kalau dari pura cuma 20 ribu. Gue memilih jalan kaki selain lebih sehat #halah, gue juga pengen tahu sejauh mana kaki gue sanggup jalan.

Tangga menuju Kawah Bromo
Dengan perut kosong dan bau ee kuda (asli ini bikin perjalanan ke atas jadi kurang nyaman) dimana-mana gue naik tangga-tangga kecil itu sendiri, temen gue ngga mau melanjutkan perjalanan ke atas karena tiba-tiba datang bulan. Untung ketemu sama Mas Fransis salah satu guide gue, dia yang nemenin gue naik ke atas, ngeliat muka gue yang pucat dia berkali-kali nanya ‘masih sanggup gak?’. Gue ngangguk tiap kali dia nanya begitu, abis sayang banget udah nyampe sana terus ngga sampe ke kawah. Biar pun gue sampe mual-mual saking maksainnya gue bertekad harus nyampe atas. Temen-temen gue yang naik duluan melambai-lambai dari jauh, semangat gue bangkit. Pas nyampe atas mereka langsung ngasih gue minum. Mereka emang the best deh. dan inilah kita…




Perjalanan dari bawah kawah sampe atas memakan waktu sekitar setengah jam dengan jalan kaki. Perjalanan turun lebih mudah dan cepat.



Dari Kawah Bromo kita langsung eksplore Pasir Berbisik, Bukit Teletubies dan Padang Savanna, melewati Kelok 29 yang keren

di Belakang gue Bukit Teletubies
Kelok 29



Setelah selesai kita balik homestay dan menuju malang. Hujan turun gede banget sampe-sampe Stasiun Malang banjir, kereta delay sampai waktu yang ngga bisa ditentuin. Kita membunuh waktu dengan jalan-jalan di sekitaran stasiun sekalian nyari oleh-oleh. Di depan stasiun nyebrang dikit ada penjual jualan bakso malang. Makan bakso malang di Malang menurut gue istimewa banget.  

Kereta Mataremaja nyampe Malang pukul 20.00 WIB padahal seharusnya Pukul 17.00 WIB kereta udah jalan, Alhamdulillah.. pukul 22.00 WIB kereta berangkat menuju Jakarta tanpa melalui Stasiun Semarang, Tanggal 5 April 2015 pukul 16.00 WIB  kereta sampai di Stasiun Jatinegara. Dengan sisa-sisa tenaga kita pulang dengan hati riang. Bromo suatu hari aku akan kembali bersama kekasih hati :P . Aamiin..  Mission completed!! Alhamdulillah....



Koala Kumal : Karena beberapa hal lebih mudah untuk ditertawai


 "Persis kaya jodoh ya, kadang di tempat ngga terduga bisa ketemu"
"Persis seperti jodoh juga kadang di tempat terbaik pun bisa tidak ketemu"
 
Koala kumal adalah sebuah buku komedi yang menceritakan pengalaman-pengalaman patah hati seorang Raditya Dika. Dari mulai patah hati karena persahabatan, patah hati karena diselingkuhi bahkan patah hati karena orang yang sama sekali ngga dia kenal. Bab demi bab buku ini aku baca sambil ngakak dan mikir “Ternyata dengan tampang Raditya Dika yang ‘begitu’ mantan ceweknya banyak juga ya.” Plakk!! Ngga sopan!
Salah satu bab yang paling aku sebel dari buku ini adalah bab “Aku Ketemu Orang Lain”. Saat itu Dika mau kuliah di Aussie dan harus menjalani hubungan jarak jauh dengan pacarnya. Pas di bandara, pacarnya sengaja mencari alasan untuk bisa lebih lama bersama Dika. Tapi Dika justru sengaja mencari alasan untuk segera pergi karena ia merasa bahwa hubungan jarak jauh hanya akan membuat kedua belah pihak sakit hati. Sebenarnya jika harus memilih Dika lebih memilih putus. Menurutnya essensi sebuah hubungan adalah dengan adanya keberadaan orang yang disayang terus-menerus.
Dika akhirnya sadar pas ngobrol dengan seorang penumpang bernama Zafran. Saat itu pesawat yang ditumpanginya ‘goyang-goyang’. (Dangduutt kalii :P).  Zafran menyuruh Dika memakai set belt yang akan melindungi mereka dari kemungkinan adanya CAT yaitu semacam ruang kosong di tengah-tengah udara yang bisa membuat pesawat ‘menabrak’. Disitu Dika mikir gini :
“Mungkin gue telah salah berpikir tentang hubungan gue dengan pacar. Mungkin hubungan gue memang tidak aman, tapi seharusnya gue bisa membuat ini semua menjadi lebih aman dari guncangan yang mungkin kita bisa tidak lihat. Sabuk pengaman yang pacar gue butuhkan adalah kepercayaan. Kepercayaan pada dia, pada kami berdua. (hal 224)”
Siapa yang nyangka setelah dua tahun menjalani Long Distance Relationship, ceweknya duluan malah yang bilang “Aku ketemu orang lain” dan ngajakin putus. Aku kesel baca bagian ini. Kamu bisa bayangin dong? Seseorang yang ragu akan sebuah hubungan LDR terus karena satu momen di pesawat bikin ia sadar bahwa hubungan LDR-pun akan tetep berjalan baik kalau mereka berdua sama-sama punya kepercayaan. Setelah ia melawan keraguan akan dirinya sendiri. Eh ia malah di tinggal pergi. Dih asin ngga sih? kamu tau ngga gimana sakitnya?hmm..ngga tau ya? Sama dong! :P
Ada dua belas bab yang bisa bikin kamu memandang patah hati dari sudut pandang yang berbeda. Bahwa patah hati seharusnya membuat kita jauh lebih kuat. Seperti seseorang yang mengikuti gym. Semakin besar beban yang diangkat semakin rusak otot kita namun semakin kuat dan besar pula otot yang tumbuh kembali.

Judul Koala Kumal dipilih Raditya Dika saat ia teringat pada sebuah foto di situs Huffington Post. Ceritanya begini ada seekor koala yang tinggal di New South Wales, Australia. Koala itu bermigrasi dari hutan tempat ia tinggal. Beberapa bulan kemudian ia kembali ke tempat ia berasal, ternyata selama ia pergi hutan tersebut telah ditebang oleh penebang liar. Si Koala bingung ia hanya bisa diam tanpa bisa melakukan apapun. Ia hanya memandangi sesuatu yang dulu di akrabinya. Sedih L
Terakhir, bagian yang bikin aku girang banget di buku ini adalah pas mantannya Dika minta balikan!! Doi nulis gini :
“Patah hati yang gue alami akibat apa yang dulu dia lakukan membuat dia berbeda di mata gue. Gue dulu jatuh cinta pada seorang perempuan cantik, baik dan bisa gue percaya. Namun setelah semua terjadi, dia berubah menjadi orang lain. Gue merasa asing. (hal. 246) “
“Saat ini gue menyadari, gue tidak mau seperti seekor koala kumal yang pulang ke tempat yang dulu nyaman untuknya, menyadari bahwa tempat itu telah berubah tetapi tidak bisa berbuat apa-apa (hal. 246)”
Entah kenapa aku selalu suka bagian pas orang yang ngga baik mengaku menyesal telah meninggalkan orang baik. Rasanya tuh kaya abis menangin kompetisi gitu~
Selain bikin kamu melek bahwa patah hati tuh bukan akhir segalanya , buku ini juga bisa ngehibur hati kamu yang lebam-lebam abis jatoh karena cinta coz sepanjang kalimat nih buku banyak joke-joke khas Raditya Dika yang bisa bikin kamu ngakak sendirian. Yupz buku memang selalu bisa jadi teman membunuh waktumu yang paling efekif lho. Ngga percaya? Terserah deh..
Salam hangat sehangat susu jahe ^^





Setu Babakan, 19 Februari 2015 Pukul 00.21 WIB
Tanggal merah dan asyik begadang






Kepak Kepik Hinggap di Dieng

Tanggal 23 Januari 2015 jadi tanggal yang bersejarah buat gue. Setelah nunggu sekian lama, gue berhasil ngetrip ke Dieng. Harusnya gue jalan tanggal 19 Desember berhubung daerah Banjarnegara ada longsor akhirnya jadwal diundur jadi bulan Januari. Gue sempet was-was tuh takut penipuan secara gue udah bayar DP. Berbekal dari temen, gue kenal sama Dewi, agen travel yang menyiapkan tetek bengek buat ke Dieng. Yups tinggal bayar 435 ribu. Gue cuma duduk manis di elf terus tau-tau sampe wonosobo. Yipii..
But ternyata semuanya ngga semudah yang gue bayangin. Berawal dari Jumat pagi. Gue telat ke tempat kerja karena Cilincing Banjir. Angkot jarang banget yang lewat, gue terkatung-katung di Mambo padahal gue udah bawa gembolan gede. Gue sempet sms Dewi nanyain jadi apa engga soalnya Jakarta banjir. Eh doi bales santai sms gue “Dieng kan dataran tinggi, mba . Ngga bakal banjir”
 YAIYAALAAAAAH… gue juga tau Dieng ngga banjir tapi dari Cilincing ke Cawang, gue musti ngelawatin jalan yang banjir.
Oke, karena udah bayar, gue nekat tetep lanjut ke Dieng. Pulang dari kerjaan gue langsung cus ke Cawang, disitu tempat mepo-nya. Untung banjir udah mulai surut. Gue sampai Cawang abis magrib. Sebagai anak bekpek yang beriman *halah. Gue nyari-nyari mushola dulu buat sholat magrib. Nyari mushola dekat-dekat UKI rada-rada susah. Gue musti jalan agak jauh sampe nemuin mushola, itu juga pake acara nyempil plus masuk gang sempit. Selesai sholat gue langsung ke parkiran UKI. Gue celingak celinguk. Gelap men. Ngga lama ada mba-mba pake jaket merah mengaku bernama Juni. Ternyata doi ikut tur barengan gue. Alhamdulillah.. ketemu teman baru.
Abis itu gue dapet sms katanya ketemuannya di parkiran bus Cawang (parkiran sebelum belokan arah MT. Haryono) bukan di parkiran UKI. Kita jalan sambil ngobrol, gue salut juga nih sama mba Juni ternyata doi pernah ngtrip sendirian ke Dieng. Doi kesana cuma berbekal info dari internet cuy. Syukurnya pas di bus Damri, doi ketemu orang wonosobo asli. Jadi deh dia diajak keliling wonosobo gratis tis tis. Tuh kan.. Tuhan adaaaa aja ngasih jalannya. Pas nyampe ke parkiran gue sempet mengerutkan jidat, diantara rombongan gue ada ternyata ada sekelompok ibu-ibu dengan anak-anaknya juga. Mereka bawa barang super banyak, gilee… niat abis. Jujur, perasaan gue mulai ngga enak.
Galau jadi berangkat apa kaga!!
Mba In dan Mba Juni
Jam 19.30 WIB semua rombongan udah lengkap, tapi elf nya belum dateng. Ngaret dari jadwal yang seharusnya jam 19.00 WIB udah mulai jalan. Satu jam kemudian, elf yang dateng hanya muat untuk 18 orang sementara rombongan ada 23 orang udah gitu kondisi pintu belakang ngga bisa dibuka. Rombongan ibu-ibu itu mulai ngoceh-ngoceh mereka nyolot mau cancel kalau Dewi ngga nambah mobil. Sebenarnya Dewi ngga bisa disalahin, dia tuh pesen elf yang bisa muat untuk 23 orang. Gue pengen bener belain Dewi, cuma gue ngga cukup nyali, gini nih nasibnya kalau jadi orang pengecut plus baiknya nanggung. Pas Dewi minta ganti mobil yang lebih gede, supir sekaligus pemilik elf bilang kalau mau ganti mobil doi harus tetep bayar full elf yang sekarang. Kan gubrakk banget. Setelah ngalor ngidul akhirnya Dewi mutusin nyewa mobil APV. Gue berharap ikut mobil itu tapi sayang mobilnya udah di tag-in sama rombongan cowok-cowok. Mau ngga mau deh gue musti siap-siap tutup kuping. Jam sepuluh malem elf jalan duluan. Gue berdoa selain dilancarkan dalam perjalanan gue juga diselamatkan dari orang-orang sekitaran gue.
Di tol Jati Bening, kita jemput satu orang lagi. Masuklah cowok yang mengaku bernama Fauzan. Elf udah jalan agak jauh dari gerbang tol, pas supir elf ditelepon sama Dewi katanya ada satu lagi yang mau naik. Si ibu-ibu rese udah mau ngomel-ngomel sama Dewi, katanya cuma satu tapi kok jadi dua. Dan taraaaaaaaa… ternyata kita salah naikin penumpang dan Si Fauzan ini salah masuk mobil. Aduh.. ada-ada aja. Si Fauzan minta maaf, terus turun. Dari spion keliatan cowok naik pagar pembatas tol terus lari-lari. Pas masuk elf, dia bilang namanya Adi. Horee.. akhirnya kita nemuin penumpang yang sesungguhnya.
Setelah perjalanan panjang pake berhenti-berhenti jam 12.55 WIB sampailah kita di Homestay Arjuna. Nginjek lantai homestay udah kaya nginjek es. Homestay-nya nyaman banget, kamar mandi udah didalem dengan water heater yang nyala full. Setelah mandi, ganti baju. Rombongan langsung jalan menuju Telaga Warna. Ngga lama hujan turun plus kabut, kamera pocket gue kembang kempis buat motret.
Kamar Kita!!
Gue pikir didalem cuma telaga warna doang ternyata gue salah. Di situ kita bisa ngeliat ada telaga pengilon ada juga goa semar, goa pengantin, goa jaran de el el (gue sibuk foto-foto sampe lupa ada apaan aja disono, maapin yak ^^v ) 
Telaga Warna. Aslinya cakep sumpah!! Ini kamera gue aja yang jelek :(
Bidadari Penunggu Telaga :P 
Batu Tulis. Kalau ngga salah ini foto bareng Kanjeng Patih Gajah Mada.. :)
Gua Sumur. hayoo sapa mau minta airnya??

di Gua Pengantin. Semoga lekas jadi pengantin. :P Aamiin.

Keluar dari telaga warna dengan cuaca gerimis kita langsung ke Kawah Sikidang. Gue ngga nanjak sampe atas karena pertimbangan kabut yang tebel banget dan jalan tanpa payung, jadi deh gue muterin kawah yang bawah-bawah aja. 

Si Kidang dan Si Santi ^^
Itu yang jongkok di belakang, guide kita, Mas Soevic
Waktu di Homestay Mba Juni bilang gue harus nyobain tempe kemul, gue excited banget pengen nyobain tuh tempe. Pas lihat bentuknya gue baru tahu kalo tempe kemul tuh sama dengan tempe goreng tepung >.<

Abis makan tempe kemul kita menuju ke Komplek Candi Arjuna. Sebelum masuk bagian inti Candi kita jalan ngelewatin halaman lapang yang ditumbuhi rumput hijau, kata Mas Soevic, guide kita selama di Dieng, pada pagi hari musim kemarau sekitar bulan Juli-Agustus, dipucuk-pucuk rumput itu, kita bisa nemuin embun yang mengkristal jadi kaya butir-butir es. Gue takjub denger cerita Mas Soevic . Sayang banget gue belum bisa ngeliat momen itu pas dateng ke Dieng. Gue ngga bisa puas foto-foto di Kompleks candi Hindu itu. Soalnya hujan turun tambah deres.
Komplek Candi Arjuna
Gue kedinginan, tangan gue kaku, dan gigi gue gemeletukan.  Ah.. coba ada lee min ho. Kalau ada dia kan bisa minta peluk. Hahaha.. skip skip. Faktanya yang bisa dilakuin sama Jomblo kyut kaya gue adalah lari nyari warung buat neduh. Pas di warung karena udah kepalang basah gue mutusin makan indomie rebus. Seporsi sepuluh ribu. Gue juga nyobain kentang goreng khas dieng. Kentangnya enak, gede-gede lagi. Gue jadi bingung sebenernya gue kelaperan atau kedinginan sih? hahaha..Jam setengah enam kita balik ke homestay dengan perut kenyang. Ngumpet didalem selimut sampe pagi. Hari pertama kelar!!
Jam 3.00 WIB alarm temen gue bunyi. Gue melek terus lari ke balkon. Ada bintaaaaaang! Itu artinya cuaca cerah. Setidaknya kemungkinan buat ketemu sunrise di Sikunir geudee dongs. Gue jalan ke Sikunir dengan perut lapar dan dingin yang nusuk-nusuk. Pas nanjak rombongan ibu-ibu itu minta istirahat mulu. Dikiri kanan gue juga banyak yang istirahat, Peberapa pasangan saling gandengan tangan dengan muka ngos-ngosan pada duduk di undakan. Ngiri? Dikit :P.  Oiya saat makan malam diantara rombongan mak-mak itu ada yang nyeletuk gini “Jadi besok kita cuma ke Sikunir nih ngga ke Gunung Prau?” Melihat mereka nanjak sikunir dengan napas ngap-ngapan gue ngedumel dalam hati “Sok-sokan mau ke Prau, nanjak ke sikunir aja keteteran” Ya Allah.. jahat amat yak guee.. Astagfirullah hal adzim..
Trio Kwek Kwek. Mba In, Mba Juni sama Bidadari Dieng.


Puncak Sikunir. Selfie dimanapun kita berada !!
Kentang Rendang. Suer.. ini enak banget!!

Jam 05.03 WIB Kita sampai di puncak Sikuniiiiiiiiir!!! Diitung-itung kita nanjak cuma setengah jam. lagi-lagi pocket kamera gue ngga bisa buat moto. Kabutnya aduhai syahdu tralala. Mau ngga mau moto ala kadarnya pake kamera HP. Puas foto-foto, jam 06.00 WIB kita turun langsung menuju Batu Pandang. Asli abis turun dari Sikunir terus jalan agak naik lagi bikin perut gue enek. Gue ngatur napas. Gue sempet nanya kenapa dinamain Batu Pandang, lagi-lagi menurut mas soevic (suka gue sama mas guide ini soalnya dia jalannya disamping gue mulu, jadi bebas nanya-nanya ). Dia bilang dinamain Batu Pandang karena dari atas batu itu bisa ngeliat hampir sebagian besar wilayah Dieng. Gue manggut-manggut sok ngerti. Daaaan Subhanallah.. dari atas batu pandang lo bisa ngeliat telaga warna jejer sama telaga pengilon plus kawah Sikidang yang ngeluarin asep. Pokoknya keren banget. Ngga nyesel naik lagi deh biar napas mpot-mpotan juga.
Batu Pandang. eh ada sang saka merah putih . Hormat Grakk!!
Bidadari dan Negerinya :P
Dari Batu Pandang ini keliatan kawah sikidang, telaga pengilon dan telaga warna. Disini pula konon kabarnya terletak desa tertinggi di pulau jawa.
Turun dari Batu Pandang kita Dieng Plateau Theatre disitu kita nonton film berdurasi 30 menit tentang asal muasal dataran tinggi dieng, konon dataran ini berasal dari letusan Gunung Prau. Gunung ini masih aktif sampe sekarang tapi tidak meletus lagi karena tekanan magma yang rendah. Abis nonton film kita berhenti di warung mie ongklok, makanan khas dieng. Mie ongklok adalah sejenis mie dengan kuah yang kental campur potongan tempe kecil-kecil. Kuahnya mungkin terbuat dari tepung maizena atau bisa juga tepung sagu (Gue mencoba berspekulasi ala pak Bondan Prakoso abisnya gue lupa nanya sama ibu-nya haha)
Mie Ongklok!
Jam 11 lewat dikit, kita check out dari homestay. Pulangnya gue minta gantian naik mobil. Thank God ngga barengan lagi sama ibu-ibu itu. Gue pikir pejalanan bakalan lebih mulus, ternyata lagi-lagi gue salah. Mobil gue pecah ban sampe dua kali. Pertama pecah di daerah Purbalingga, untungnya nih pecah pas depan warung, jadi kita bisa ngupi-ngupi dulu. Nah yang kedua pecah bannya di daerah Cirebon. Alhamdulillahnya ngga ada yang sampe kenapa-kenapa.

Pecah Ban :(

Ngopi dulu ala Bapak-bapak bersama Dewi.

 Jam 02.00 dini hari senin gue sampai di Jakarta dan hari itu juga langsung masuk kerja. Untung pas nyampe Cawang ada pangeran yang siap jemput. Terimakasih Babeh!! Mission Completed!!




Setu Babakan, 1 Februari 2015 pukul 20.30 WIB
Nulis sambil dengerin tetangga sebelah lempar-lemparan barang pecah belah..
Mas bram berantem lagi sama Mba Hana..


Belajar Psikologi lewat Bulan Nararya

Buku ini aku beli beberapa hari yang lalu atas rekomendasi dari blog sekarsekarsekar.wordpress.com. Menurut mba sekar ‘Bulan Nararya’ itu bagus banget. Buku ini juara ketiga dalam kompetisi Tulis Nusantara 2013. Yaps baru kali ini gue niat banget baca novel Sinta Yudisia. Sebenarnya gue ngga terlalu asing sama nama beliau, becoz doi nih beberapa kali ikutan menulis dalam antologi bareng Asma Nadia. (Penulis favorit gue sejak SMA) Aih.. gue jatuh cintrong sama ini novel, sama penulisnya juga dink. Guru gue nambah nih.  
Nararya adalah seorang terapis perempuan yang bekerja di Mental Health Centre milik Bu Sausan. Dari sekian banyak sentra di klinik tersebut, Nararya dipercaya bagian kasus Skizofrenia. Ia ingin mencoba menghentikan penyembuhan penderita skizofrenia menggunakan famakologi. Karena menurutnya obat jutstru akan mebuat penderita semakin ketergantungan. Nararya ingin menggunakan pendekatan transpersonal yaitu terapi yang berfokus pada klien. Tanpa obat. Tanpa sengatan Listrik. Suatu aliran baru yang lebih berbau budaya dan filosofi, mencoba mendekati setiap penderita dengan apa yang mereka butuhkan. Nararya percaya, klien akan sembuh total dan dapat kembali ke tengah-tengah masyarakat. Keinginan tersebut tentu saja ditolak oleh ketua yayasan karena dianggap masih mentah dan memerlukan penelitian yang lama.
Dedikasi Nararya dengan terapi transpersonalnya begitu tinggi meskipun sebagai terapis ia sendiri memiliki masalah rumah tangga yang cukup pelik, perceraian dengan suaminya setelah menikah sepuluh tahun, ditambah lagi suaminya menikah dengan Moza, sahabatnya yang bekerja pula di Klinik tersebut. Semua itu membuat Nararya dilanda depresi.
Setidaknya ada tiga klien yang Nararya sebut sebagai kebaikan yang takdir berikan padanya. Tiga orang penderita Skizofrenia yang Nararya datangi setiap kali ia sedih.
Pertama adalah seorang gadis beranjak remaja bernama Sania. Ia dibesarkan oleh nenek yang miskin dan sering menghadiahkan sabetan rotan padanya, ibu yang pemarah dan ayah yang pemabuk. Sania ditemukan dinas sosial. Ia pindah dari satu tempat rehabilitasi ke tempat lain hingga tiba di klinik tempat Nararya bekerja.
Kedua adalah seorang kakek berusia 70 tahun. Ia adalah penghuni LP yang ditangkap karena dugaan pencurian. Rumah tahanan tidak hanya memproduksi residivis namun juga menambah pasien gangguan mental. Mungkin bagi orang lain lelaki ini disebut gila. Namun bagi Nararya terkadang ucapannya sumber inspirasi.
Ketiga adalah Yudistira. Ia bungsu dari dari empat bersaudra. Ketiga kakaknya perempuan. Sejak kecil semua kebutuhan Yudistira dipenuhi oleh ibunya. Karena keinginan ibunya pula Yudistira mengambil kuliah jurusan arsitek padahal jiwanya ada di kesenian. Ia memiliki seorang istri bernama Diana. Intervensi keluarga dalam rumah tangga mereka membuat Yudistira tertekan dan menjadi pihak yang paling merasa bersalah. Yudistira tidak banyak bicara dan menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk melukis. Yudistira terdiagnosis penderita Skizoprenia Katatonik.
Nararya adalah sosok fiksi yang menginspirasi gue. Wanita yang kuat, Powerful, Ironwoman, Though.
 “Aku bukan anak kecil yang meringkuk di ranjang orang tua ketika menghadapi masalah” begitu kata Nararya pada dirinya sendiri ketika ia merasa tak mampu menghadapi masalah perasaannya.
“Kamu ngga berubah ya. Berharap keadaan tetap seperti semua pedahal kita terus berubah. Apa menurutmu aku harus bahagia melihat kamu dan Moza? Jujur, setiap kali ketemu kamu yang terbayang hanya rasa sakit. Maka aku menghindarimu, menghindari Moza. Kamu memaksaku supaya bisa menetima keadaan. Mungkin suatu ketika nanti aku bisa lapang dada menerima pernikahanmu. Tapi ngga sekarang aku belum bisa. Denganmu aku belum bisa bersikap netral”
“Kamu ingin melepas ikatan hidupmu, hidup bebas lagi dan kali ketiga memulai hubungan yang serius dengan orang lain? Kamu yakin energimu cukup untuk memulai pernikahan yang ketiga bila nanti kamu ingin mengakhiri pernikahanmu dengan Moza? Waktu itu berjalan Angga. Kematanganmu haruslah sejalan dengan usiamu. Kalau kamu pisah lagi dengan Moza, ingin bebas, lalu baru benar-benar terikat lima tahun kedepan sudah berapa usiamu? Kamu tertatih-tatih kelelahan memulai kehidupan yang terikat tanggung jawab”
Kata Nararya pada Angga ketika mantan suaminya itu datang ke rumah dan mengatakan menyesal atas perceraian mereka. Nararya yang membuat jarak terentang demikian lapang agar tidak banyak terluka karena Angga. Berusaha menyembuhkan diri dengan menghindari masalah.
Iyaaaa.. gue suka Nararya, dia tuh jenis perempuan kaya Jo dalam 101 dating atau Asmara dalam Assalamualaikum Beijing. Gue emang suka novel yang tokoh perempuannya kuat. Berharap gue juga bisa kaya mereka. Berdaya, berpendidikan, menyimpan karisma, tough, altruist, powerful!! Bulan Nararya juga bikin gue pengin belajar psikologi, biar tahu gimana nebak kepribadian orang dan bagaimana seharusnya bersikap. Haisshhh drooling gue kemana-mana…!!!



Jakarta, 10 Januari 2015 10.58 PM

Malam minggu dan bingung harus ngapain!!