Showing posts with label poems. Show all posts
Showing posts with label poems. Show all posts

Menulis lagi menulis terus


Kutuliskan kesedihan semua tak bisa
kau ungkapkan dan kita kan bicara dengar hatiku
Buang semua puisi antara kita berdua 
kau bunuh dia sesuatu  yang kusebut itu cinta
-Nidji-

Menulis bagi gue adalah semacam terapi. Saat gue sedih gue nulis, saat gue merasa kecewa gue nulis juga, saat gue nemuin sesuatu yang touched di hati gue masih nulis, saat gue dijalan terus ujan, ya gue berteduh-lah. #halah.

Belakangan.. gue amat sangat pasrah sama hidup. Gue udah nemuin zona nyaman yang bikin gue terlena. Sebenarnya gue tau ini adalah dangerous alarm. Ngga ada target dalam hidup, ngga ada mimpi-mimpi yang berderet-deret, ngga ada ide-ide buat ditulis dan gue merasa otak udah terjadi penurunan fungsi memori yang drastis, buktinya tiap gue dapet info baru gue gampang banget lupa.
Semakin gue asik asik aja dengan hidup, semakin mati otak gue.  Dan lo tau dong ? kalo otak udah mati it means mati juga jiwa raga gue. Oh NOOOO !!!

Orang boleh pandai setinggi langit,
tapi selama ia tidak menulis,
ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.
Menulis adalah bekerja untuk keabadian.
-Pramoedya Ananta Toer-

Dulu gue pernah bercita-cita jadi penulis. Gue tertarik sama dunia cerpen, novel dan puisi. Pertama kali nulis sampe selesai itu kelas 4 SD. Dibaca sama teman sekelas gue, doi antusias bingits. Responnya bikin gue semangat nulis. Sampe-sampe gue ikutan kursus komputer cuma biar bisa ngetik tulisan gue.

Topik yang paing sering gue tulis adalah seputar percintaan remaja. Kelas satu SMP dapet tugas guru bahasa Indonesia bikin cerpen. Gue bikin tokoh perempuannya memiliki cinta yang tak terbalas dan berakhir dengan ending ketabrak mobil. Yaps.. gue ngaku dari dulu gue emang mellow, galau dan ngga penting. Mungkin karena ceritanya terlalu dewasa dibanding umur si pengarang, cerpen tersebut ngga menang cama cekalii.. huahahahahaha. Gue sadar. Gue terlalu tua dari umur gue.

Lanjut ke kelas dua SMP, gue dapet tugas buat bikin puisi tentang tsunami Aceh. Salah satu puisi terpilih bakal dikirim ke majalah sama guru gue. Lagi-lagi gue ngga lolos. Kata pak guru beliau tau mana puisi beneran dibikin sama anak SMP, mana yang dapet nyadur. Gue bertanya-tanya mungkinkah puisi gue termasuk didalam bagian yang terlihat seperti menyadur ? Mungkinkah bahasa gue lebih tua dari bahasa anak SMP ? Waktu itu gue pengen nanya kenapa puisi gue ngga masuk cuma gue ngga berani. Gue takut jawabannya malah bikin gue males ke Sekolah. Jadi gue cuma ngelampiasin kekecewaan gue dengan naik pohon jambu belakang rumah teriak kenceng sambil jambak-jambak rambut Kenapaaaa Tuhaaaaaaaaaaaaaaaan ? kenapaaaa hidup ini tak adil ??

Pengalaman menulis yang bikin gue bangga campur geli sampai sekarang adalah pas gue didapuk bikin puisi buat acara perpisahan kakak kelas SMA. Temanya tentang persahabatan dan guru. Rencananya puisi bakal dimusikalisasi biar dramatisir-dramatisir gimanaa gitu.  Pertama kali gue sodorin puisi gue katanya kurang panjang, akhirnya gue tambahin lagi baitnya. Yess bos im so amateur. Gue sempet pusing, gue ngga pernah bikin puisi sepanjang itu dengan tema yang hampir ngga pernah gue pake. (pokoknya tema gue cinta-cintaan mulu deh).

Saat acara berlangsung dan temen gue ngebawain puisinya, kakak-kakak kelas tuh bukannya pada nangis malah pada ketawa gara-gara lihat ekspresi temen gue yang sangaaaaat total (ekpresi, suara dan gaya tubuhnya menurut gue yaaa..bagus-bagus aja.). Mereka ngga ada sedih sama sekali, mereka malah sahut-sahutan ngeledekin temen gue. Huft...

Abis acara kelar temen gue bilang terimakasih dan bilang kalau dia sampe nangis baca didepan. Gue ngangguk-ngangguk aja karena gue ngga liat airmata dia secara panggungnya tuh jauh banget dari temapt gue duduk. Jujur gue aja ngga sedih sama sekali ngeliatnya tadi. Entahlah.. barangkali hati gue emang terbuat dari batu akik jenis bacan.

Gue juga pernah ikut pelatihan menulis dari grup yang gue ikuti di fb. Waktu itu tiap peserta suruh bawa karyanya masing-masing. Nanti diforum terbuka tulisan gue bakal dibaca dan dikomentarin. Do you know apa kata mereka? Tulisan gue engga bangeeeet. Ancur daaah!!

Beberapa orang bilang suka sama tulisan gue dan berharap gue bisa melebarkan sayap. Burung kali! But gue juga ngga bisa mengindahkan fakta bahwa setiap gue ngirim karya ke media gue ngga pernah nembus dan ketika karya gue dibaca sama seseorang yang profesional, Kata mereka karya gue tuh masih perlu banyak perbaikan.

Engkau campur baur dan seringkali kabur
 namun aku mencatatmu untuk rindu
lalu kucoba melupakanmu
-Taufiq Ismail-      
                                         
Gue sementara berhenti ngirim tulisan ke media. Tulisan gue tebar di blog ini doang. Suatu hari nanti pas gue punya anak, gue bakal kasih email sama passwordnya, biar doi yang ngelanjutin perjuangan menulis emaknya. Sebab galau-pun harus dengan cara yang anggun. (hoeekkkkkk cuh cuh cuh)

Menulis itu seperti berlibur.
Lakukan dengan sesuka hati
-Asma Nadia-






Sajak Februari

Saja Februari Oleh Helvy Tiana Rossa

1
cinta adalah rasa
yang kuucap dalam setiap desah
dan cuaca
tak sampai-sampai getarnya padamu

2
setiap hari embun meneteskan kesetiaannya pada pagi
seperti aku yang tak pernah berhenti menari
dalam mimpi tentangmu
dan jatuh

3
maka kutanyakan pada mungkin
ia memandangku dengan mata kaca
mengecup luka dan berkata
pergi dan pakailah kerudung airmatamu
sebab tak ada tempat untuk cinta di sini

4
Engkaukah itu yang berkata?
Semua pejalan di bumi, semua pencinta
pasti akan menderita
tapi bagaimana agar tiap gerak berarti
hingga malaikat pun sudi mengecup
semua luka kita yang mawar

engkaukah itu yang berkata, cinta?
sementara diam-diam kita berikan
keping luka dan risau kita
pada angin yang tak desau

5
Di dalam bis yang membawa banyak orang,
Kau cari aku hari itu.
Tapi kau tak tahu
aku telah mencarimu sejak pertemuan pertama kita
Mengapa kau sisakan peta buram yang sama
hingga aku tak pernah bisa menatap punggungmu

Di antara dinding dingin di sekitar kita
kau cari aku hari itu
tapi kau tak tahu
aku telah mencarimu bermusim-musim
dan selalu hanya pilu
yang memeluk dan membujukku
Pulanglah, kau sudah begitu lelah

6
Begitulah
kata telah lama berhenti
pada napas dan airmata
Di manakah kau, di manakah aku?
Labirin ini begitu sunyi
dan cinta terus sembunyi

7
Seperti gelombang yang setia pada lautan
aku telah lama kau campakkan
ke pantai paling rindu itu
tapi sebagai ombak aku memang harus kembali
meski dengan luka yang paling badai

8
Begitulah perempuanmu
memintal lalu menguraikan kembali
kenangan di sepanjang jalan kaca yang retak itu
Kau mungkin lupa pernah
menitipkan kilat asa di mataku
yang menjelma beliung
namun tak perlu bulan, lilin atau kunang-kunang
selalu kutemukan jejak juga napasmu
di jalan raya kehidupanku

Membayangkan wajahmu aku pun bermimpi
tentang matahari lain yang menyala suatu masa
Mungkin kita bisa saling memandang lama
melepas beliung abai yang menyiksa selama ini

9
:Aku telah berjuang untuk melupakanmu

Seperti baru kemarin kau datang dan kita bicara
sambil menatap ubin, dinding dan pohon jambu itu
Kau bilang tak mungkin, sebab
ada yang lebih penting kau selesaikan

Seperti angin yang tak sadar disapa waktu
aku berpura tak mendengar
Dia akan datang, kataku.
Tapi katamu, kau akan datang setelah urusan selesai.
Bagaimana kalau dia yang tiba lebih dahulu?
Siapakah yang harus kuabaikan?
Siapa yang perlu kulupakan?

Kita terdiam mengamini ubin, dinding dan pohon jambu
suara sapu ibu kos di ruang tamu, kendaraan lalu lalang
beberapa mahasiswa dengan jaket kuning melintas
mungkin sebentar lagi gerimis

Dalam sepi itu tiba-tiba kita pun teringat
perkataan seorang sahabat
Katanya kita punya sesuatu, semacam hubungan indah,
yang tak bisa dirumuskan

Ketika kau pulang senja itu
aku tahu mungkin kita tak akan berjumpa lagi
untuk waktu yang lebih dari lama
Menyakitkan, tapi bukankah
tak semua kebersamaan
harus jadi monumen
kadang lebih baik dibuang
biar usang dalam tong sampah

10
Dan akhir adalah permulaan
kau aku tak pernah menapaki mula
juga mungkin tak pernah sampai
pada selesai
seperti puisi yang kutanam
di kuntum hatimu

11
Hai

katamu aku tetap perempuan itu
tak henti menyelami lautan huruf
demi yang Maha Cinta

dan kau sangat tahu
atas nama cinta pula
telah kuputuskan berhenti
menuliskan kenangan tersisa
titik tanpa koma

Begitu Saja

Pancoran, 27 Agustus 2013 00.17 AM


Pada bait lagu dan puisi tanpa diksi
Secangkir kopi yang masih menyisa wangi
Seteguk demi seteguk …
Aku memungut jejakmu..

Lebih dari lima detik
Aku tertegun tepat di matamu..
Mengekori gerak bibir yang meliuk
Suara merdu tanpa rima.. tanpa rasa

Meski suatu masa yang langka
Waktu sepertinya berlalu  begitu saja..
Aku… tak pernah merasa puas..

Tak bisa merasa puas..

Rindu

Jika boleh di hitung
Setiap detik dimasa ini adalah akumulatif kerinduan 
Yang merangsek naik ke sukma
Kata rindu itu hanya bisa aku sampaikan pada Sang MahaMencinta
Berharap, ada balasan yang lebih baik atas kehormatan perasaan ini..


Jakarta, 12 August 2013 14.43 WIB 
Ketika kerinduan itu tak tertanggungkan




Aku, Hujan dan Sapardi Djoko Damono

Segalanya seperti mimpi
kujalani hidup sendiri
andai waktu berganti
aku tetap tak'kan berubah

Aku selalu bahagia
saat hujan turun
karena aku dapat mengenangmu
untukku sendiri....

Lagu itu udah jadi original soundtrack setiap aku nyetir si merah setiap berangkat dan pulang kerja. Aku merasa suaraku bagus banget kalau lagi nyanyi lagu itu. hahaha Pede amat. 
Aku jatuh cinta sama hujan. Jatuh cinta sejak mulai mengenai Sapardi Djoko Damono seorang pujangga terkemuka yang walaupun menggunakan kata-kata sederhana tetapi selalu apik bahasa puisinya. Di karya-karyanya kamu bakal banyak nemuin kata hujan, pohon, basah, langit, kartu pos, rumput hijau bahkan perahu kertas. Aku belajar banyak dari puisi-puisi beliau. Walaupun hasilnya ya ga seujung kukunya..hihi. Ini aku post in salah satu puisi karya beliau. Jatuh cintalah segera..

Membebaskan Hujan

Ada yang ingin menjaring hujan
Dengan pepatah-petitih tua
Yang tak lekang meski basah-
hujan buru-buru menghapusnya
Ada yang ingin mengurung hujan
Dalam sebuah alenea panjang
Yang tak kacau meski kuyup
hujan malah sibuk menyuntingnya
ada yang ingin membebaskan hujan
dengan telapak tangan
Yang jari-jarinya bergerak gemas-
hujan pun tersirap: air mata


Manis 'kan?  ^o^

Dan dalam setiap doaku yang panjang, aku berharap kita tidak pernah bertemu

Dan dalam setiap doaku yang panjang
Aku berharap kita tidak pernah bertemu
karena.. kamu membawa lebih dari yang seharusnya
karena.. kamu menyakiti lebih dari yang sewajarnya
karena.. kamu menikamku lebih dari yang selayaknya
karena.. kamu mengoyakku lebih dari yang semestinya

Dan dalam setiap doaku yang panjang
Aku berharap kita tidak pernah bertemu
Karena aku harus mengikhlaskan banyak
Karena aku harus mengorbankan banyak
Karena aku harus melepaskan banyak
karena aku harus menitikan banyak

Dan dalam setiap doaku yang panjang
Aku berharap kita tidak pernah bertemu
karena kita adalah sesuatu yang dipaksakan..
karena kita adalah sesuatu yang terlalu dituntutkan..
karena kita adalah sesuatu yang terlalu dicocok-cocokan..
karena kita adalah sesuatu yang terlalu disama-samakan..

Dan dalam setiap doaku yang panjang
Aku berharap kita tidak pernah bertemu...
Agar yang hilang tak pernah ada
Agar yang kepunyaan tak pernah musnah
Agar yang melekat tak pernah luruh
Agar yang putih tak pernah ternodai

Dan dalam setiap doaku yang panjang...
Aku berharap kita tidak pernah bertemu...
Tidak pernah bertemu.. 


nothing

bulan malam ini penuh cinta…
dan aku harus menahan..
jari jemariku mengirim angin ke mailbox mu..
ada yang berdenyut lembut..hatiku kurasa .
haduuh…kamu sudah tidurnya??
Hingga tak mendengar pekik lonceng yang semalam
Aku goyangkan??
Aku tahu…hujan tak akan berarti apapun buatmu..
Ahh kauu memang selalu begitu..
Membuatku gemas..
Bunga…aku butuh sekuntum bunga..
Agar aku punya sesuatu yang aku siram setiap pagi..
Dan senja tentu saja..
Bukankah itu romantis???
Kau akan datang..di laruik sanjo..dengan motor bebekmu..
Aku akan tersenyumm…kamu juga..
Begitu gilakah khayalanku malam ini??

seribu pledoi

aku patut berbangga hati karena mendahului kokok
Ayam jantan pertama..
Dibalik kediamanku memang ada seribu pledoi
Yang aku simpan dalam dekap
Hanya untuk seseorang
Aku sendiri..
aku butuh angin sejuk..
yang meniupkan daun kering di bulan april
dan menitikan hujan di bulan mei ..
wajahmu memang memudar di akhir waktu
aku bahkan menyita tulisanmu sebagai tangga titian
dan pengingat tentunya …
agar aku senatiasa mendekap sang Rabb dalam kekhusuan
tapi sejujurnya aku benci ini …
benci kamu yang hadir menggoyahkan mimpiku..
maaf …sifatku tak lebih baik dari yang lain
itu sebuah kemungkinan bukan???
Hidup ini penuh makhluk yang gagal
Dan aku tak mau mempercayai seandainya
Kamu menjadi bagian dari yang gagal itu..
Aku merindu senyummu..
Sangat..hingga sepertinya aku butuh lebih banyak oksigen
agar aku tetap hidup sewajarnya…tanpa kamu tentunya..

7 mei 2010 01.09 am
Setelah baru saja menyelesaikan makalah pengkajian kasus
hari ini hujan my dearest dan aku rindu

rinai yang memetik diam diam di sudut dunia kita

dunia kecilmu dan aku..

mungkin suatu hari nanti darah kita akan menyatu ..

di muara kecil sumber mata air.. yang kita lewati setiap hari..

ada kehilangan yang menyalak saat kau tak ada ..

dan ada yang menyelinap saat matamu tak ada di pandangku.

"aku cinta kamu"begitu katamu di suatu malam

aku tercenung cenung

tak kusangka kalimat itu menyembul begitu saja dari hatimu..

aku mengangguk

selanjutnya kita begandengan tangan...


"betapa indah bulan malam ini bukan?"kataku tersipu..


jakarta 3 april 2009
with love

DeLia_can