Showing posts with label bintang. Show all posts
Showing posts with label bintang. Show all posts

Namanya Bidan Tri

Namanya bidan Tri. Tri Eljayanti. Umurnya baru 28 tahun, Pakai kerudung, tidak suka difoto kecuali foto sama artis, profesional, Bidan Jenius, Bidan U
sil, manis dan mempunyai suara ketawa yang lucu. Dia adalah salah seorang wanita yang bisa bikin aku pengen jadi cowok karena menurutku gampang banget buat jatuh cinta sama dia. Aku belajar banyak darinya, bagaimana menjadi orang yang sabar, selalu bersemangat, ikhlas dan bekerja dengan cinta.
Aku ingat saat itu dia ulang tahun, dia dan aku kebetulan dines pagi, tapi aku yang datang lebih dulu dari dia. Pas aku datang kepala RB ku bilang kalau hari itu Ka Tri ulang tahun dan akan memberikan surprise party. Tidak hanya kepala RB ku banyak juga yang udah ngumpul di RB menunggu si tersangka datang aku engga sabar. Pas dia datang, kepala RB ku yang udah nunggu diluar lari masuk ke RB buat ngasih tahu kita agar bersiap-siap menyambutnya. Dan begitu pintu di buka... selamat ulang tahun.. selamat ulang tahun.. selamat ulang tahun Tri Elja selamat ulang tahun..lagu ceremony itu mengalun ceria, dia menangis dan tak mampu berkata-kata dalam beberapa saat. Ia menyembunyikan airmata harunya dengan menutupi mukanya menggunakan kerudung.. hari itu aku sadar semua orang menyayanginya dan semua orang menyayanginya pasti karena satu alasan : Kebaikan hati yang dimiliki Ka Tri. Memang apa yang kita tanam tentu itu yang akan kita tuai. Seseorang akan dikenang tergantung dari apa yang mereka lakukan semasa hidupnya. Bukankah begitu?
Aku suka menatapnya dalam, mengamati saat dia bekerja. Kadang jika aku jeli aku bisa menangkap kalau dia ada masalah tapi dia tidak akan mengatakan apapun (kecuali kalau keceplosan :P) kesedihannya akan dia sembunyikan dalam tawa.  Dia adalah nafas Ruang Bersalin, tempat dimana aku berkeluh, Ah.. memang ngga ada yang bisa seperti dia, tidak juga aku..

Jendela Dapur dan Langit Selatan

Setu Babakan, 24 Agustus 2013 10.50 WIB
Aku menatap jutaan bintang dilangit selepas subuh dari balik jendela dapur yang langsung menghadap ke halaman rumah bagian belakang, langsung ke langit selatan. Dari celah-celah daun jambu yang rimbun aku mencoba mengintip dan membentuk dengan pikiranku tiap bintang sambil menebak mungkinkah bintang-bintang itu membentuk rasi yang ku kenal?
Itu yang sering aku lakukan, saat masih tinggal di Brebes, di rumahku. Langit selatan selalu membuatku tertegun lebih lama, bukan karena aku tidak menyukai langit utara, barat atau timur tapi karena kebiasaan selepas subuh aku sering menemani simbah masak, hanya menemani tidak membantunya. Saat menemani itu aku selalu membuka jendela dapur lebar-lebar, jendela itu langsung menyajikan pemandangan magis, langit selatan dengan jutaan bintang yang mempesona. Aku jadi merasa melankolis. Merasa hidup didunia novel, film dan sebangsanya. 
Pernah suatu kali saat aku masih SMP aku pinjem buku  di perpustakaan, aku meminjam buku yang berisi gambar-gambar rasi bintang dan nama-namanya. Saat malam tiba dan jutaan bintang membentang memenuhi langit halaman depan rumah. Aku berdiri di tengah-tengah halaman menatap langit dan membuka buku itu, Setiap rasi yang aku temukan di buku, aku cocokan dengan bintang langit malam, beberapa aku temukan (meskipun aku ngga yakin benar apa engga) tapi lebih banyak yang aku ngga nemu.
Saat aku merantau ke Jakarta dan segala kerumitannya. Aku benar-benar tak sempat melongok langit malam. Baru beberapa hari ini sadar ada satu perbedaan yang amat mencolok antara langit Jakarta dan Langit Brebes. Di langit Brebes aku akan sangat kesulitan mengitung jumlah bintang setiap malamnya, tapi di Jakarta aku akan dengan mudah merapalnya dengan jari, tanpa mesin hitung tanpa kalkulator. Mungkin langit jakarta yang miskin bintang itu karena polusi cahaya yang tinggi. Aku tak tahu.. yang jelas tiba-tiba aku merindukan saat itu, saat aku menatap langit dari balik jendela dapur, menembus rerimbunan pohon jambu,  angin semilir yang menyentuh pipiku pelan sambil menelisik langit selatan duluuuu..sekali..


Kita Ini Salah

Soto Ayam Gang Senggol
Brebes, 2 Syawal 1434 H

Aku dan kamu kembali ke tempat itu, tepat setahun berselang. Awalnya aku tidak menginginkan pertemuan itu. Tidak. Karena yah..tentu saja pertemuan itu tidak dibenarkan. Aku hanya ingin memberikan batasan yang jelas pada hubungan ini. Hubungan yang hanya mentok di kata "teman". hanya teman..tapi aku benar-benar membutuhkan bantuanmu saat itu jadi kupikir apa salahnya meminta tolong ? 
Aku mengamatimu. Detail. Senyummu terlihat lebih manis sekarang selain itu tidak ada yang berubah. 
"Kita ini salah" kataku ngotot sambil mengibaskan jari telunjukku. Kamu hanya membalasnya dengan senyum cengengesan. khas mu. Beberapa detik mata kita berpandangan. aku kalah kemudian memutuskan untuk mengaduk susu cappucinno. Pesananku.
"Aku  juga tahu.. tapi mau bagaimana lagi?" aku membeku. meresapi pikiranku sendiri. 
"Yang tahu hanya aku, kamu dan Tuhan" katamu lagi. Aku setuju kali ini. 
"Jadi kapan kita akan berhenti?" tanyaku menggoda.
"Saat aku dan kamu mempunyai pasangan masing-masing, saat itulah kisah ini berakhir" aku mengangguk beberapa kali lalu menatap jam dinding yang menyeringai masam.
"Mari pulang.." Ajakku padamu.