Belajar Psikologi lewat Bulan Nararya

Buku ini aku beli beberapa hari yang lalu atas rekomendasi dari blog sekarsekarsekar.wordpress.com. Menurut mba sekar ‘Bulan Nararya’ itu bagus banget. Buku ini juara ketiga dalam kompetisi Tulis Nusantara 2013. Yaps baru kali ini gue niat banget baca novel Sinta Yudisia. Sebenarnya gue ngga terlalu asing sama nama beliau, becoz doi nih beberapa kali ikutan menulis dalam antologi bareng Asma Nadia. (Penulis favorit gue sejak SMA) Aih.. gue jatuh cintrong sama ini novel, sama penulisnya juga dink. Guru gue nambah nih.  
Nararya adalah seorang terapis perempuan yang bekerja di Mental Health Centre milik Bu Sausan. Dari sekian banyak sentra di klinik tersebut, Nararya dipercaya bagian kasus Skizofrenia. Ia ingin mencoba menghentikan penyembuhan penderita skizofrenia menggunakan famakologi. Karena menurutnya obat jutstru akan mebuat penderita semakin ketergantungan. Nararya ingin menggunakan pendekatan transpersonal yaitu terapi yang berfokus pada klien. Tanpa obat. Tanpa sengatan Listrik. Suatu aliran baru yang lebih berbau budaya dan filosofi, mencoba mendekati setiap penderita dengan apa yang mereka butuhkan. Nararya percaya, klien akan sembuh total dan dapat kembali ke tengah-tengah masyarakat. Keinginan tersebut tentu saja ditolak oleh ketua yayasan karena dianggap masih mentah dan memerlukan penelitian yang lama.
Dedikasi Nararya dengan terapi transpersonalnya begitu tinggi meskipun sebagai terapis ia sendiri memiliki masalah rumah tangga yang cukup pelik, perceraian dengan suaminya setelah menikah sepuluh tahun, ditambah lagi suaminya menikah dengan Moza, sahabatnya yang bekerja pula di Klinik tersebut. Semua itu membuat Nararya dilanda depresi.
Setidaknya ada tiga klien yang Nararya sebut sebagai kebaikan yang takdir berikan padanya. Tiga orang penderita Skizofrenia yang Nararya datangi setiap kali ia sedih.
Pertama adalah seorang gadis beranjak remaja bernama Sania. Ia dibesarkan oleh nenek yang miskin dan sering menghadiahkan sabetan rotan padanya, ibu yang pemarah dan ayah yang pemabuk. Sania ditemukan dinas sosial. Ia pindah dari satu tempat rehabilitasi ke tempat lain hingga tiba di klinik tempat Nararya bekerja.
Kedua adalah seorang kakek berusia 70 tahun. Ia adalah penghuni LP yang ditangkap karena dugaan pencurian. Rumah tahanan tidak hanya memproduksi residivis namun juga menambah pasien gangguan mental. Mungkin bagi orang lain lelaki ini disebut gila. Namun bagi Nararya terkadang ucapannya sumber inspirasi.
Ketiga adalah Yudistira. Ia bungsu dari dari empat bersaudra. Ketiga kakaknya perempuan. Sejak kecil semua kebutuhan Yudistira dipenuhi oleh ibunya. Karena keinginan ibunya pula Yudistira mengambil kuliah jurusan arsitek padahal jiwanya ada di kesenian. Ia memiliki seorang istri bernama Diana. Intervensi keluarga dalam rumah tangga mereka membuat Yudistira tertekan dan menjadi pihak yang paling merasa bersalah. Yudistira tidak banyak bicara dan menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk melukis. Yudistira terdiagnosis penderita Skizoprenia Katatonik.
Nararya adalah sosok fiksi yang menginspirasi gue. Wanita yang kuat, Powerful, Ironwoman, Though.
 “Aku bukan anak kecil yang meringkuk di ranjang orang tua ketika menghadapi masalah” begitu kata Nararya pada dirinya sendiri ketika ia merasa tak mampu menghadapi masalah perasaannya.
“Kamu ngga berubah ya. Berharap keadaan tetap seperti semua pedahal kita terus berubah. Apa menurutmu aku harus bahagia melihat kamu dan Moza? Jujur, setiap kali ketemu kamu yang terbayang hanya rasa sakit. Maka aku menghindarimu, menghindari Moza. Kamu memaksaku supaya bisa menetima keadaan. Mungkin suatu ketika nanti aku bisa lapang dada menerima pernikahanmu. Tapi ngga sekarang aku belum bisa. Denganmu aku belum bisa bersikap netral”
“Kamu ingin melepas ikatan hidupmu, hidup bebas lagi dan kali ketiga memulai hubungan yang serius dengan orang lain? Kamu yakin energimu cukup untuk memulai pernikahan yang ketiga bila nanti kamu ingin mengakhiri pernikahanmu dengan Moza? Waktu itu berjalan Angga. Kematanganmu haruslah sejalan dengan usiamu. Kalau kamu pisah lagi dengan Moza, ingin bebas, lalu baru benar-benar terikat lima tahun kedepan sudah berapa usiamu? Kamu tertatih-tatih kelelahan memulai kehidupan yang terikat tanggung jawab”
Kata Nararya pada Angga ketika mantan suaminya itu datang ke rumah dan mengatakan menyesal atas perceraian mereka. Nararya yang membuat jarak terentang demikian lapang agar tidak banyak terluka karena Angga. Berusaha menyembuhkan diri dengan menghindari masalah.
Iyaaaa.. gue suka Nararya, dia tuh jenis perempuan kaya Jo dalam 101 dating atau Asmara dalam Assalamualaikum Beijing. Gue emang suka novel yang tokoh perempuannya kuat. Berharap gue juga bisa kaya mereka. Berdaya, berpendidikan, menyimpan karisma, tough, altruist, powerful!! Bulan Nararya juga bikin gue pengin belajar psikologi, biar tahu gimana nebak kepribadian orang dan bagaimana seharusnya bersikap. Haisshhh drooling gue kemana-mana…!!!



Jakarta, 10 Januari 2015 10.58 PM

Malam minggu dan bingung harus ngapain!!

Rindu Ini Milik Tere Liye

Rindu. 
Setiap perjalanan selalu disertai oleh pertanyaan-pertanyaan.. 

Buku ini aku beli beberapa hari yang lalu di Gramedia Mall Of Indonesia setelah selesai nonton film Doraemon ‘Stand by Me’ dan kita (aku, Ka Dhian, Ipar Ka Dhian, Mila sama Khusnul) ngga nemu tempat karaokean yang deket akhirnya kita memutuskan mampir ke Gramedia. Kebetulan ada buku yang pengin aku cari.

Buku ‘Rindu’  milik Tere Liye berjejer diantara buku-buku lain yang best  seller. Membaca judulnya, langsung menarik perhatianku. Rindu. (Merindu seperti aku :p #AsikJoss). Setelah ditimang-timang beberapa kali. (Di taro terus diambil, taro lagi.. muter-muter rak lain terus balik lagi ke rak itu. Diambil lagi, baca backcovernya sekali lagi). Akhirnya aku memutuskan untuk membelinya. Dua buku aku gotong hari itu #Halah. Satu ‘Bulan Nararya’ milik Shinta Yudisia dan satunya lagi si ‘Rindu’ ini.

Aku sudah membaca referensi buku Bulan Nararya yang katanya recommended banget jadi memutuskan membaca si ‘Rindu’ dulu. Setidaknya kalau Bulan Nararya sudah ada sedikit gambaran kalau 'Rindu'. Gelap Blass!! aku jadi lebih penasaran..

Aku membutuhkan waktu tujuh hari untuk membaca novel setebal 544 halaman ini, lho. Hihi  lama juga ya? Buku ini mengambil setting waktu tahun 1938. Bercerita tentang perjalanan sebuah kapal besar bernama Blitar Holland. Kapal pengangkut jemaah haji pada masa penjajahan Belanda. Kapal ini memulai perjalanan dari Makassar yang kemudian berlayar sampai ke Jeddah. Lima kisah penumpang kapal di ceritakan oleh Darwis tere Liye dalam buku ini.

Kisah pertama tentang seorang wanita keturunan china yang terlalu takut menghadapi masa lalunya sebagai seorang cabo ( Pelacur). Ia selalu berusaha lari dari kenyataan hidup hingga membuatnya tidak bisa bergaul dengan banyak orang. Ia tidak bisa berdamai dengan masa lalu akhirnya ia gelisah setiap waktu.

Kisah kedua tentang seorang pria yang terlihat selalu bahagia. Jika dilihat dari kulit luar. ia memiliki segalanya, pendidikan tinggi, harta melimpah, Istri yang cantik dan anak-anak yang lucu, namun siapa yang sangka diatas semua kebahagiaan itu ia menyimpan kebencian yang mendalam pada seseorang. Ia selalu dihantui pertanyaan-pertanyaan sepanjang perjalanan.

Kisah ketiga tentang seorang ‘Mbah Kakung’ yang bersedih atas kematian istrinya hingga berkali-kali mempertanyakan kenapa Tuhan memberikan takdir yang sulit diterimanya.

Kisah keempat tentang seorang pria pendiam berusia 24 tahun bernama Ambo Uleng. Ia bukan ‘penumpang’ kapal sebenarnya. Ia adalah seorang kelasi yang direkrut di hari pertama kapal Blitar Holand merapat di pelabuhan Makassar. Awalnya Kapten Philips (Sang Nahkoda keturunan Perancis) menolak menerima Ambo Uleng sebagai kelasi kapal karena ia menganggap bahwa Ambo Uleng tidak terlatih. Kapten luluh hatinya saat mendengar bahwa Ambo Uleng bersedia tidak dibayar asal dia diperbolehkan ikut kapal Blitar Holand. Ambo uleng ingin pergi sejauh-jauhnya. Ada satu kalimat kapten Philips yang keren buat di kutip

“Hanya ada dua hal yang membuat seorang pelaut tangguh berhenti bekerja di tempat yang dia sukai lantas memutuskan pergi naik kapal apa pun yang bisa membawanya sejauh mungkin ke ujung dunia. Satu karena kebencian yang amat besar, satu lagi karena rasa cinta yang sangat dalam.”

Kisah kelima tentang seorang  Gurutta. Dia adalah ulama mashyur yang dikenal oleh penduduk Makassar hingga Pare-Pare. Ia menjadi tempat orang untuk bertanya tentang berbagai masalah kehidupan tetapi sesungguhnya dia sendiri menyimpan kemunafikan.

Jujur, ini pertama kalinya aku membaca novel Tere Liye. Sebelumnya aku hanya membaca kutipan-kutipan tulisan beliau di facebook. Memang banyak hikmah yang bisa diambil dari Novel Rindu ini salah satunya tentang cinta sejati dan melepaskan

“Cinta sejati adalah melepaskan. Semakin sejati perasaan itu maka semakin tulus kau melepaskannya. Persis seperti anak kecil yang menghanyutkan botol tertutup di lautan, dilepas dengan suka cita. Aku tahu, kau akan protes, bagaimana mungkn? Kita bilang cinta sejati, tapi justru melepaskannya? Tapi inilah rumus terbalik yang tidak perna dipahami para pecinta. Mereka tidak pernah mencoba memahami penjelasannya, tidak bersedia."

Mungkin karena setting tempatnya di kapal, aku merasa sedikit bosan membaca kalimat yang ‘begitu-begitu’ saja karena rutinitas tokohnya yang ‘begitu-begitu’ di tempat yang ‘itu-itu’ saja.. hihi. Oke baiklah.. abaikan saja pendapat dari si amatir ini bagaimanapun.. Selamat membaca buat kamu yang pengen baca dan.. selamat tahun baru 2015!!

Sajak Februari

Saja Februari Oleh Helvy Tiana Rossa

1
cinta adalah rasa
yang kuucap dalam setiap desah
dan cuaca
tak sampai-sampai getarnya padamu

2
setiap hari embun meneteskan kesetiaannya pada pagi
seperti aku yang tak pernah berhenti menari
dalam mimpi tentangmu
dan jatuh

3
maka kutanyakan pada mungkin
ia memandangku dengan mata kaca
mengecup luka dan berkata
pergi dan pakailah kerudung airmatamu
sebab tak ada tempat untuk cinta di sini

4
Engkaukah itu yang berkata?
Semua pejalan di bumi, semua pencinta
pasti akan menderita
tapi bagaimana agar tiap gerak berarti
hingga malaikat pun sudi mengecup
semua luka kita yang mawar

engkaukah itu yang berkata, cinta?
sementara diam-diam kita berikan
keping luka dan risau kita
pada angin yang tak desau

5
Di dalam bis yang membawa banyak orang,
Kau cari aku hari itu.
Tapi kau tak tahu
aku telah mencarimu sejak pertemuan pertama kita
Mengapa kau sisakan peta buram yang sama
hingga aku tak pernah bisa menatap punggungmu

Di antara dinding dingin di sekitar kita
kau cari aku hari itu
tapi kau tak tahu
aku telah mencarimu bermusim-musim
dan selalu hanya pilu
yang memeluk dan membujukku
Pulanglah, kau sudah begitu lelah

6
Begitulah
kata telah lama berhenti
pada napas dan airmata
Di manakah kau, di manakah aku?
Labirin ini begitu sunyi
dan cinta terus sembunyi

7
Seperti gelombang yang setia pada lautan
aku telah lama kau campakkan
ke pantai paling rindu itu
tapi sebagai ombak aku memang harus kembali
meski dengan luka yang paling badai

8
Begitulah perempuanmu
memintal lalu menguraikan kembali
kenangan di sepanjang jalan kaca yang retak itu
Kau mungkin lupa pernah
menitipkan kilat asa di mataku
yang menjelma beliung
namun tak perlu bulan, lilin atau kunang-kunang
selalu kutemukan jejak juga napasmu
di jalan raya kehidupanku

Membayangkan wajahmu aku pun bermimpi
tentang matahari lain yang menyala suatu masa
Mungkin kita bisa saling memandang lama
melepas beliung abai yang menyiksa selama ini

9
:Aku telah berjuang untuk melupakanmu

Seperti baru kemarin kau datang dan kita bicara
sambil menatap ubin, dinding dan pohon jambu itu
Kau bilang tak mungkin, sebab
ada yang lebih penting kau selesaikan

Seperti angin yang tak sadar disapa waktu
aku berpura tak mendengar
Dia akan datang, kataku.
Tapi katamu, kau akan datang setelah urusan selesai.
Bagaimana kalau dia yang tiba lebih dahulu?
Siapakah yang harus kuabaikan?
Siapa yang perlu kulupakan?

Kita terdiam mengamini ubin, dinding dan pohon jambu
suara sapu ibu kos di ruang tamu, kendaraan lalu lalang
beberapa mahasiswa dengan jaket kuning melintas
mungkin sebentar lagi gerimis

Dalam sepi itu tiba-tiba kita pun teringat
perkataan seorang sahabat
Katanya kita punya sesuatu, semacam hubungan indah,
yang tak bisa dirumuskan

Ketika kau pulang senja itu
aku tahu mungkin kita tak akan berjumpa lagi
untuk waktu yang lebih dari lama
Menyakitkan, tapi bukankah
tak semua kebersamaan
harus jadi monumen
kadang lebih baik dibuang
biar usang dalam tong sampah

10
Dan akhir adalah permulaan
kau aku tak pernah menapaki mula
juga mungkin tak pernah sampai
pada selesai
seperti puisi yang kutanam
di kuntum hatimu

11
Hai

katamu aku tetap perempuan itu
tak henti menyelami lautan huruf
demi yang Maha Cinta

dan kau sangat tahu
atas nama cinta pula
telah kuputuskan berhenti
menuliskan kenangan tersisa
titik tanpa koma

passenger let her go lyrics



Well, you only need the light when it's burning low,
Only miss the sun when it starts to snow,
Only know you love her when you let her go.

Only know you've been high when you're feeling low
Only hate the road when you're missing home
Only know you love her when you let her go...
And you let her go.

Staring at the bottom of your glass
Hoping one day you'll make a dream last
But dreams come slow, and they go so fast
You see her when you close your eyes
Maybe one day you'll understand why
Everything you touch surely dies

But you only need the light when it's burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you've been high when you're feeling low
Only hate the road when you're missing home
Only know you love her when you let her go

Staring at the ceiling in the dark
Same old empty feeling in your heart
'Cause love comes slow, and it goes so fast

Well you see her when you fall asleep
But never to touch and never to keep
Cause you loved her too much, and you dived too deep

Well you only need the light when it's burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you've been high when you're feeling low
Only hate the road when you're missing home
Only know you love her when you let her go
And you let her go ooooh ooooh oh no


Entahlah gue kerasukan apa hari ini, yang jelas lagu galau itu gue putar-putar ulang malem ini dari core duos gue. iya gue lagi sedih, gue galau, gue kangen. mungkin Tuhan cemburu makanya mendatangkan kerinduan yang ngga kesampean. maaf Ya Allah.. ,,,,,,,
besok udah senin tapi semangat gue lagi berada di level paling rendah. gue benci jadi kaya gini, sedih karena sesuatu yang absurd. gue butuh ransel atau guling buat gue peluk. 

"Kasihan amat nasib kamu, San" seorang temen komentar gitu pas gue pasang status mewek di BBM, terus dia pake ketawa lagi. Emang gue se-menyedihkan itu ya? ah elah jahat benget.

payah banget dah gue masa gue berharap pas abis adegan nangis-nangis gitu,  dia tiba-tiba datang kerumah gue, nyamperin gue persis kaya yang ada di adegan drama-drama korea. Ember ngarepin yang terlalu tinggi bikin gue tambah semaput, gue sih yakin 1000% dia ngga bakal kaya gitu. manusia yang gue sayang tapi entah hatinya terbuat dari apa. gue diem berharap dia peka tapi ngga peka-peka. gue bilang apa yang gue mau dia bilang pacaran aja sama yang lain. mungkin dengan ditimpuk pake bakyak dia ngeh kali ya.. eh tapi jangan deh, kasihan.. dia kan kesayangannya aku.

huaaaaaaaa sedih sedih sedih banget. apa yang harus gue lakuin sekarang coba, masa musti di let her go-in dulu baru gue ngerasa disayang.. gue ga mauu.. :( :(. mama pake ketawa-ketawa lagi gue ngga jadi jalan, doi tahu bener dari kemaren gue gelisah mulu kaya ayam mau bertelor, mondar-mandir nunggu momen buat ketemu, eh pas hari H. malah gatot, rasanya langsung pengen menenggelamkan diri ke bantal, mencoba buat tidur biar nyeseknya lupa, tapi gue coba ngga bisa-bisa.

udah lah cukup ngocehnya udah jam 08.47 PM, gue mau nyoba tidur lagi. semoga kali ini berhasil. well bagaimanapun gue sayang elo..



It is a girl thing


Girls aren't always going to talk you first. We don't like starting the conversation because we like to feel like you want to talk to us. We feel like the wait was worth something. We feel like you have waited for us like we have waited for you. The number one reason why we hate talking first is we hate to seem needy or clingy cause to us being needy and obsessive just pushes guys away and no girls wants that.
Catatan ini ditulis pas lagi macet di daerah cempaka putih tanggal 11 Agustus 2014 pukul 18.47 WIB.
Gue dapet kata-kata bahasa inggris itu dari Display Picture-nya seorang temen. Ga usah nanya siapa karna gue lupa. Well terlepas dari siapapun itu gue ngerasa hampir semua kata2 itu bener. Setidaknya menurut gue.
Terkesan egois mungkin. Bahwa cewek selalu pengen di hubungi duluan, pengen diajak ngomong duluan Tapi emang bener ko. Abis kalo kita duluan ngehubungin dibilang genit and Kegatelan. Ya gak sih?
Dan cowok-cowok yg baik seringnya ga suka sama cewek model begitu. Ah.. siapa juga yg berharap cowok pada suka :p
Jalanan masih macet dan gue udah mulai keabisan kata2. Robin williams meninggal hari ini dan di duga bunuh diri. Satu-satunya yg langsung gue inget dari dia adalah film jumanji. Kadang orang yg sukses emang suka kesepian ya..
Otak gue yg jahat juga suka begitu. Kadang gue ngerasa sumpek banget idup kalo apa-apa yang gue kerjain ga bikin bahagia. Atau.. orang-orang disekeliling gue ga bisa bikin gue nyaman. Selentingan selentingan pikiran jelek suka muncul dan bikin gue jadi manusia yg paling ga bersyukur. Iya.. iya.. iya.. tau.. gue emang salah. Kata-kata motivasi cuma  defense mechanism buat nutupin hati gue yang retak-retak.. ah elah lebay.
Udah hampir jam 7 malem dan gue masih di daerah cempaka putih...

Cerita Yang Belum Selesai

Aku ingin semuanya berakhir dengan baik-baik,” ujarnya.
Aku tersenyum, ada yang tersengat di tubuhku. Bahkan terasa seperti memantik api, hanya saja hanya menjadi percik-percik. Tidak menyala, karena kadar air tubuhku cukup tinggi. Konon airlah yang mengalahkan api. Maka, kalimat yang memantik api pun padam.
Terus terang kalimat ini menurutku sangat gagah berani. Meluncur tanpa getar, lantang, dan lepas. Aku merasa, betapa luar biasanya perempuan ini. Jauh dari yang kuduga. Di balik tubuhnya yang mungil, wajahnya yang innocent, ternyata menyala keberanian yang tak dinyana.
“Aku ingin, silaturahmi kita akan terus terjalin…” ucapnya lagi, setelah hening beberapa saat menguasai ruang.
Lagi, aku tersenyum. Hanya menarik ujung bibir. Masih tidak percaya, perempuan ini punya daya mengungkapkan kata-kata itu tanpa beban. Seolah tak terjadi apa pun di antara aku dan dia. Padahal, sesuatu yang dahsyat telah terjadi dan melemparkanku ke tempat berantah sebagai makhluk terlemah yang hancur, lepas tulang dari persendian, lepas akal dari pikiran, lepas daya dari kekuatan yang ada.
Aku bukan makhluk mutan yang dengan mudah menyatu, merekonstruksi diri, kembali seperti sedia kala dengan sangat singkat. Menjadi sempurna seperti sebelumnya. Sebagai manusia, bangun dari keterpurukan itu perlu daya. Untuk kembali gagah itu butuh energi. Memang ada yang bisa bangkit sendiri, tapi tidak banyak. Banyak yang terpuruk lama tak kunjung berdaya, terperangkap dalam galau yang panjang, sambil pelan-pelan menutup luka yang tak terlihat. Luka hati, luka rasa, luka karena cinta…
Hmm…
Setahuku, mencintai itu tak akan menyakiti. Tidak mungkin melukai juga tidak mungkin merusak rasa orang yang dicintainya. Itu ukuran sederhana yang aku tahu. Logika yang tidak rumit dan tidak berbelit. Kalau yang terjadi sebaliknya, tentu aku boleh dong bertanya, benarkah dia mencintaiku? Kalau iya, kenapa dia menyakitiku? Membuat luka hati begitu dalam pada orang yang ‘katanya’ dicintai?
Mendadak mataku menatap sebuah tulisan kecil pada sebuah stiker yang tertempel di kaca, tak jauh dari tempatku duduk. Tulisannya kecil, tapi aku berusaha dengan paksa untuk membacanya. Ya, membacanya sambil mendengarkan perempuan di depanku terus bicara. Orang yang mulia adalah ketika dia disakiti dan punya kesempatan membalasnya, tapi dia tidak melakukannya.
Aku menunduk. Bertarung dalam dadaku keras sekali. Emosi yang terus teraduk, keruhnya meledek kebeningan di sisi lainnya. Mengejek kejernihan di tepian hatiku. Kata-kata mengalir deras, tetap dengan gagah dan bertenaga. Seperti tidak terjadi apa-apa. Sementara aku meraba-raba, mengukur diri, sebenarnya aku ini bodoh atau sedang menuju kemuliaan itu. Mulia untuk tidak membalas walau punya kesempatan, walau tampak bodoh karena tak berharga diri sebagai laki-laki. Entahlah…
Sampai ujung pertemuan, aku hanya bisa diam, membatin kecil, “Semua baru mulai, cerita ini belum selesai…” Ya, cerita ini belum selesai, luka itu terlalu dalam…

*terinspirasi tuturan seseorang di saung…

Repost dari Blog Kang Taufan

Cinta Rian

Cinta Rian
 
Santi's File


“Hiks hiks Rian tuh udah naksir seorang cewek dan cewek itu bukan gue” Gue dan Yuke saling pandang bingung harus berbuat apa ngeliat Dera mewek.
“Udah tenang Der, Rian pasti bisa ko kamu taklukin” hibur gue, Bohong!
“Ngga mungkin saingannya tuh berat banget”
“Ah seberat apa sih? asal bukan si Meriana semua bisa kok bertekuk lutut di kakimu” celetukku
“Hwaaa…hwaa saingan gue emang Meriana” Tangis Dera semakin menggila.
Jadi siapa Meriana Jung? Dia itu siswa kelas XI Ipa I adik kelas gue, dia cantik, banget malah. Kalau gue seorang cowok pasti juga bakal kesengsem berat sama dia. Bapaknya orang Korea ibu nya blasteran Indonesia-Amerika ngga heran kalau dia punya wajah cantik nan aduhai ditambah lagi dengan otak yang super encer plus attitude yang mempesona, jarang banget deh ada manusia kaya dia setidaknya menurut gue.
Gue natap sohib gue Dera dengan miris. Cantiknya ngga ada seperempatnya si Meriana, tubuhnya agak gemuk dengan tinggi cuma mentok di angka 150 cm. IQ nya juga standar aja, asal ngga remedial pas ujian, dia itu udah bersyukur banget . belum lagi kepribadian yang ngga kalah ngepas sama kaya mukanya. Aduh makin jauh tuh mimpinya buat jadi pacarnya si Rian.
Rian? Jangan tanya betapa gantengnya dia, tau Siwon Suju? Nah seperti itulah muka dan perawakannya. Senyumannya yang manis membuat JSSU (Jaringan Semut Semut Unyu sebutan untuk fans nya Rian) macam si Dera jatuh cinta ,belum lagi sikap dia yang baik ke semua orang.  Perfecto lah pokoknya.
Yah kalau dipikir-pikir Dera sama Rian dicari titik temu nya juga ngga bakal ketemu, tapi yang bikin gue salut tuh si Dera ngga pesimis buat dapetin Rian. Ya..kecuali saat ini saat Dera tahu ternyata cintanya Rian buat Meriana. Ngga heran sih kalau gue suruh milih juga milih Meriana!
“Darimana lo tau Rian suka Meriana, kita tuh semua tau Rian tuh milik bersama ngga pernah keliatan dia suka satu cewek pun disekolah ini!” gue ngotot dengan agak lebai.
“hiks hiks..gue tau dari JSSU beritanya bilang kalau puisi Rian yang dipajang di mading itu buat Meriana “ucap Dera lirih. Yuke tetap kalem heran juga dengan Miss Jilbab yang doyan makan cireng sama otak-otak ini ngga pernah sekalipun komen masalah beginian
 “Kita kan ngga bisa nuduh Rian suka sama Meriana hanya dengan modal puisi macam begitu”tukasku.
“Lo udah baca belum puisisnya Na?’
“Belum” kata gue sambil cengengesan
“Makanya baca dulu baru komen” gerutu Dera sambil melemparkan puisi Rian yang telah ia salin di sebuah kertas.
Dan cinta itu memelukku seperti sejuk kini
Ia mulai menetesi butir demi butir semestaku
Aku mendambamu
Setiap jarum yang terus berdetak
Mentari berganti jubah rembulan
Hela nafas yang ku reguk ada asmamu
Terukir syahdu di sukmaku
I adore u..
I adore u..

***
Hari ini hari ulang tahun sekolah gue. dan buat ngrayain, sekolah gue ngadain pensi. Gue yang notabene ga bisa apa-apa (dalam hal seni tentunya ) cuma bisa nonton dengan iri ngeliat temen-temen gue pada naik panggung dan memamerkan bakat mereka. Yuke yang ngeliat gue ngelus-ngelus dada mulu akhirnya ngajak gue sama Dera muter-muter Stand makanan. Gue baru inget kalau dari pagi gue belum sarapan. Gue lagi makan cimol pas Yuke nunjuk-nunjuk ke arah panggung sambil narik-narik baju Dera. Gue sama Dera nengok bebarengan ke atas panggung, disana Rian dengan bandnya mau tampil. Gue merinding, bukan karena takut cuma kagum sama Rian yang makin ganteng dalam balutan jas hitam dengan daleman kaos. Gue ngelirik Dera, cewek disamping gue hampir aja ilernya netes kalau ngga gue sumpel mulutnya pake tisu
“Gue mau nyumbangin lagu buat seseorang yang spesial di hati gue. Mungkin selama ini kalian bingung sebenernya buat siapa puisi yang dipajang di madding itu. Gue tegaskan disini ,cewek itu bukan Meriana Jung, dia teman SMP gue dan sekarang sekolah juga di SMA ini” semua orang merangsek kedekat panggung saat Rian mengatakan itu. Suasana hening sesaat, semua orang sepertinya bener-bener penasaran dengan kalimat Rian selanjutnya. Gue menahan nafas takut ngga denger pas Rian nyebutin nama cewek itu.
“For Yuke Ningrum lagu ini buat kamu.. I love u”

HAH? Jadi selama ini Rian suka nya sama Yuke? Gue melirik cewek disamping gue yang masih kalem ngemut otak-otaknya. Yuke sepertinya ngga peduli seluruh orang ditempat itu tengah memperhatikannya dan kayaknya Yuke juga ngga denger apa yang Rian omongin soalnya gue perhatiin dia dari tadi cuma fokus sama otak-otaknya doang. Yuke manis sih tapi dengan jilbab yang dipakai asal dan saus yang nempel dimana-mana di jilbab putihnya gue rasa itu cukup bikin tampang manisnya menjadi sedikit pahit. Ah bukankah cinta emang buta. Terserah Rian lah sukanya sama siapa asal dia bahagia gue juga bahagia. DERA! dimana Dera? Oh God..gue memanggil–manggil nama Dera diantara lantunan lagu “Jadian” –nya The Junas Monkey yang dinyanyikan oleh Rian buat Yuke. Gue berusaha menemukan Dera. Dia menghilang. Tuhan.. gue ngga suka saat-saat kayak gini.

Setu Babakan, 25 April 2013