Begitu Saja

Pancoran, 27 Agustus 2013 00.17 AM


Pada bait lagu dan puisi tanpa diksi
Secangkir kopi yang masih menyisa wangi
Seteguk demi seteguk …
Aku memungut jejakmu..

Lebih dari lima detik
Aku tertegun tepat di matamu..
Mengekori gerak bibir yang meliuk
Suara merdu tanpa rima.. tanpa rasa

Meski suatu masa yang langka
Waktu sepertinya berlalu  begitu saja..
Aku… tak pernah merasa puas..

Tak bisa merasa puas..

Jatuh cinta diam-diam

Setu Babakan 26 Agustus 2013 05.38 PM

6 tahun lalu.... 
"Gadis SMA kelas X itu selalu duduk didepan pintu kelas, matanya bersiap menengok ke kelas lain yang terletak di ujung, Kelas XI. Matanya awas mengintai, dia berharap seseorang yang namanya terus-menerus ia sebut di dalam hati muncul barang hanya 1 detik, dan kemunculan orang itu secara ajaib menghilang perasaan sesak di dadanya. Senyumnya mengembang seketika"

5 tahun lalu...
"Kini Gadis itu telah naik ke kelas XI. Kabar yang ia terima hari ini mengguncang perasaannya.  seseorang yang namanya terus-menerus ia sebut di dalam hati telah memiliki seorang kekasih. Adik kelasnya. Ia sama sekali tidak menitikkan air mata. Hanya lantunan doa yang dia panjatkan, kebiasaan mengintainya dari jauh seseorang yang namanya terus-menerus ia sebut didalam hati masih selalu ia lakukan, karena dari situ ia merasa bahagia"

4 tahun lalu...
"Gadis itu sekarang kelas XII, Berita duka itu ia dengar dari guru bahasa indonesianya, seseorang yang namanya terus-menerus ia sebut didalam hati pergi untuk selama-lamanya. Konon katanya karena kanker Paru-paru . Ia menulis sambil menitikkan airmata. Innalillahi Wa inna ilaihi Roji'un"

“Pada akhirnya, orang yang jatuh cinta diam-diam hanya bisa mendoakan setelah capek berharap, pengharapan yang ada dari dulu, yang tumbuh dari mulai kecil sekali, hingga makin lama makin besar, lalu semakin lama semakin jauh. Orang yang jatuh cinta diam-diam pada akhirnya menerima. Orang yang jatuh cinta diam-diam paham bahwa kenyataan terkadang berbeda dengan apa yang kita inginkan. Terkadang yang kita inginkan bisa jadi yang tidak kita sesungguhnya butuhkan. Dan sebenarnya, yang kita butuhkan hanyalah merelakan.  Orang yang jatuh cinta diam-diam hanya bisa, seperti yang mereka selalu lakukan, jatuh cinta sendirian."Marmut Merah Jambu -Raditya Dika -

Parfum dan Memori

Setu Babakan 25 Agustus 2013 11.33 PM

Sering saat mencium wangi sesuatu secara tidak langsung otak akan me-link an dengan suatu peristiwa atau seseorang di suatu masa di waktu yang lalu. Hal kaya gini nih kata ilmuwan emang wajar, soalnya di bagian otak kita ada yang namanya sistem limbik yaitu sistem yang mengatur kenangan dan perasaan. Jadi masih kata ilmuwan nih ya.. ada hubungan yang erat antara reseptor penciuman dengan sistem limbik. Hubungan yang harmonis ini menyebabkan orang bisa dengan mudah mengingat kapan pertama kali mencium wangi tertentu, serta mengingat apa yang pernah dirasakan pada saat itu.
Saat parfum berasa jadi mesin waktu, memutar kenangan ke satu titik dimana saya pernah berada disana, seolah-olah wangi itu hanya milik moment itu atau seseorang itu saja. Tapi hal kaya gini jadi nyiksa banget kalau moment atau orang itu bener-bener bukan sesuatu yang pengen kita ingat. Saat saya mencium wangi tertentu ada dua yang yang bisa saya pastikan. Pertama senyum bisa mengembang kedua air mata meluruh, dan soal hati saya benar-benar ngga bisa milih kenangan seperti apa yang akan membayang di pelupuk mata. 

Mudah-mudahan.. wangi yang aku hirup beberapa hari ini hanya akan menyisakan senyum manis yang terkembang di masa yang akan datang.. Aamiin..

Jendela Dapur dan Langit Selatan

Setu Babakan, 24 Agustus 2013 10.50 WIB
Aku menatap jutaan bintang dilangit selepas subuh dari balik jendela dapur yang langsung menghadap ke halaman rumah bagian belakang, langsung ke langit selatan. Dari celah-celah daun jambu yang rimbun aku mencoba mengintip dan membentuk dengan pikiranku tiap bintang sambil menebak mungkinkah bintang-bintang itu membentuk rasi yang ku kenal?
Itu yang sering aku lakukan, saat masih tinggal di Brebes, di rumahku. Langit selatan selalu membuatku tertegun lebih lama, bukan karena aku tidak menyukai langit utara, barat atau timur tapi karena kebiasaan selepas subuh aku sering menemani simbah masak, hanya menemani tidak membantunya. Saat menemani itu aku selalu membuka jendela dapur lebar-lebar, jendela itu langsung menyajikan pemandangan magis, langit selatan dengan jutaan bintang yang mempesona. Aku jadi merasa melankolis. Merasa hidup didunia novel, film dan sebangsanya. 
Pernah suatu kali saat aku masih SMP aku pinjem buku  di perpustakaan, aku meminjam buku yang berisi gambar-gambar rasi bintang dan nama-namanya. Saat malam tiba dan jutaan bintang membentang memenuhi langit halaman depan rumah. Aku berdiri di tengah-tengah halaman menatap langit dan membuka buku itu, Setiap rasi yang aku temukan di buku, aku cocokan dengan bintang langit malam, beberapa aku temukan (meskipun aku ngga yakin benar apa engga) tapi lebih banyak yang aku ngga nemu.
Saat aku merantau ke Jakarta dan segala kerumitannya. Aku benar-benar tak sempat melongok langit malam. Baru beberapa hari ini sadar ada satu perbedaan yang amat mencolok antara langit Jakarta dan Langit Brebes. Di langit Brebes aku akan sangat kesulitan mengitung jumlah bintang setiap malamnya, tapi di Jakarta aku akan dengan mudah merapalnya dengan jari, tanpa mesin hitung tanpa kalkulator. Mungkin langit jakarta yang miskin bintang itu karena polusi cahaya yang tinggi. Aku tak tahu.. yang jelas tiba-tiba aku merindukan saat itu, saat aku menatap langit dari balik jendela dapur, menembus rerimbunan pohon jambu,  angin semilir yang menyentuh pipiku pelan sambil menelisik langit selatan duluuuu..sekali..


Ini Impian Gila Saya Atau...

Setu Babakan, 23 Agustus 2013 10.38 PM

Tadi siang nonton wideshot metro tv ada kisah tentang orang-orang yang tinggal di pinggir rel KRL , tentang Pak Sodik yang memilih untuk tinggal dengan kedua anak dan istrinya di tempat yang dianggapnya rumah, padahal itu hanya terpal yang ditempelkan ke sebuah pagar tembok dan kayu sebagai salah satu tiangnya. Tidak perlu sampai menunggu narator membacakan asal Pak Sodik, dari cara dia bicara dan dari bahasa yang dia gunakan. Pasti. Saya langsung bisa menebak kalau bapak itu berasal dari Brebes, Tempat yang sama dimana saya berasal. 
Sehari-hari Pak Sodik menjual sayur di pasar yang terletak (juga) di pinggir Rel. Sedih melihat bapak dan anak-anaknya berjalan diatas rel tanpa alas kaki dengan badan yang sepertinya jarang mandi. lusuh dan kumal. 
"Kalau bisa memilih aku lebih suka jadi petani, pulang ke kampung dan menanam bawang atau kalau aku punya uang lebih aku ingin tinggal di kontrakan yang lebih layak" Kata Pak Sodik. Bahasa Indonesia-nya kerap dicampur dengan bahasa Brebes yang "Ngapak". Ketika ditanya apa bapak tidak takut tinggal di pinggir rel yang berbahaya Bapak itu menjawab " kenapa takut, udah terbiasa. anak-anak aja ngga takut" dia tersenyum tapi saya merasa getir. KRL baru saja lewat dan rambut kemerahan anak-anak Pak Sodik yang digarang matahari tertiup angin. Sering pengen membentuk suatu komunitas yang mengajar anak-anak itu, mengajari membaca atau sekadar mendongeng, tapi bingung mulai dari mana.
Melihat mereka saya sedih sekaligus bersyukur, sedih karena selama 68 tahun Indonesia merdeka, kesejahteraan warga-nya hanya dapat dirasakan oleh kalangan tertentu. Bersyukur kerena saya bisa sekolah sampai setinggi ini, salah satu pencapaian tertinggi di keluarga saya.
Setiap melihat kisah-kisah mereka yang kurang beruntung, saya selalu tergelitik ingin melakukan sesuatu yang lebih, kerja bakti untuk ikut membantu negara ini. tapi apa? kadang saya merasa merasa ini pikiran gila yang hanya bisa saya ucapkan tanpa melakukan apa-apa. Hanya sesumbar tanpa wujud nyata. Melihat teman saya yang sekarang jadi aktivis saya merasa kecil. Dia bisa melakukan sesuatu untuk masyarakat. Mengapa saya tidak? Apa yang saya bisa baktikan untuk negeri ini? 
Suka mikir pengen jadi pengajar muda yang siap ditempatkan dimana saja selama satu tahun untuk mengajar di sekolah-sekolah di pelosok Indonesia, tapi mengingat saya punya beberapa tanggung jawab sebagai seorang anak kepada orang tuanya, saya jadi mikir lagi. Rasanya cukup dilematis mengabdi untuk negeri tapi melupakan bakti pada orang tua. Duh...
Waktu itu sempat senang pengen ikut Kelas Inspirasi yaitu kegiatan yang mewadahi para profesional pendidikan dari berbagai sektor yang telah sukses untuk ikut berkontribusi yang nyata dan aktif dalam perbaikan pendidikan di Indonesia. Jadi para profesional itu masuk ke sebuah SD dan mengajar disana selama satu hari untuk menginspirasi siswa-siswi agar termotivasi untuk memiliki mimpi yang besar. Kelas Inspirasi hanya butuh waktu satu hari, tidak satu tahun seperti pengajar muda tapi harapan langsung luruh pas baca syaratnya kalau mau gabung jadi pengajar Kelas Inspirasi yaitu harus bekerja di bidangnya minimal dua tahun. Lha saya? Baru 7 bulan!! saya membutuhkan 17 bulan lagi untuk bisa ikut jadi pengajar KI. 
"Ngga marah-marah sama pasien aja sudah cukup" kata seseorang kepada saya, saat saya mengeluhkan gimana caranya berbuat sesuatu untuk Indonesia. Jadi bidan memang profesi yang mulia tapi saya selalu merasa kalau jadi bidan adalah lahan saya untuk mencari materi walaupun bagi sebagian orang "mulia" juga bisa diartikan sebagai tabungan di akhirat, entah naluri saya selalu menentang untuk itu. Padahal dengan modal saya yang itu saya bisa jadi ujung tombak untuk menurunkan Angka Kematian Ibu dan bayi dan PR terbesar saya adalah menjadi bidan yang bener-bener bidan dengan memiliki kompetensi selayaknya bidan, Bidan Sungguhan. Tapi.. (lagi-lagi) saya benar-benar pengen ngajar, pengen mendongeng, pengen membantu "anak-anak" Pak Sodik yang lain mengajari mereka matematika sederhana dan ikut dalam wujud nyata mencerdaskan kehidupan bangsa.. bagaimana saya harus memulainya? 
"Ngga marah-marah sama pasien aja sudah cukup" kalimat itu berdengung-dengung dikepala saya, nampaknya saya harus lebih realistis. 

Rindu

Jika boleh di hitung
Setiap detik dimasa ini adalah akumulatif kerinduan 
Yang merangsek naik ke sukma
Kata rindu itu hanya bisa aku sampaikan pada Sang MahaMencinta
Berharap, ada balasan yang lebih baik atas kehormatan perasaan ini..


Jakarta, 12 August 2013 14.43 WIB 
Ketika kerinduan itu tak tertanggungkan




Hari Bersejarah

Coret-coretan gue sambil nungguin Ka Elly
Gue akan mencatat tanggal ini. Tanggal 21 Agustus 2013 sebagai tanggal yang bersejarah dalam kehidupan gue selama umur gue 21 tahun. Jadi hari ini untuk pertama kalinya gue nari dan pentas di panggung. Kita (Gue, ka Elly, Mba Lita, Ka Ayu, Ka Feby) cuma latihan 4 hari!! coba bayangkan??. Tragedi ini bermula saat gue lagi nyetor uang KJS ke Bu Emi. Ka Elly datang tergopoh-gopoh (Halah!) narik-narik lengan baju gue suruh ke aula. Pas nyampe aula, Ibu gue, Bu Resti yang notabene kepala RB langsung nyeletuk "Udah san, ikut aja, kamu kan biasa ikut lomba"
HAH?? gue syok dong. "lomba sih lomba tapi bukan lomba nari juga, Bu" hati gue menjerit, secara gitu udah lama banget ngga nari terakhir pas SMA kelas dua dan itu udah 4 tahun yang lalu, Kawan. Nari pas SMA itu juga syarat doang karena kebetulan gue masuk IPA dan pelajaran keseniannya emang nari jawa dalam artian gue ngga beneran niat nari, mau ngga mau lah..
Singkat cerita akhirnya gue nari. NARI  BENARAN ! latihan hari kedua udah bagus-an. pas tampil didepan Big Bos dia bilang apa coba? gerakkannya suruh di tambah, harus lebih enerjik!! MATI KUTU lah kita, secara dengan latihan yang tinggal 2 kali lagi, penambahan gerakkan rasanya tantangan yang cukup berat. Akhirnya kita berkorban. berkorban ngga ikut halal bi halal, berkorban untuk ngga makan gratis :P (karena pas kita latihan, kita mutusin buat latihan nari dirumah Pak Ramli nah di waktu yang bersamaan ada acara halal bi halal di puskes dan ada acara makan-makannya, duh...)
Dan setelah 4 kali latihan. Kita pasrah. Gerakkan kita emang ngga kompak. Jujur gue juga suka lupa memposisikan gue sebagai mana mestinya, hari ini kita tampil yang pertama sebagai pembuka (gue baru tau ternyata ada banyak yang nampil nari hari ini, engga cuma dari puskes gue). Kata temen gue, agak berantakan tapi ya sudahlah.. kita usahanya udah mentok abis ko (membela diri :P). Gue berharap semoga tarian-tarian setelah penampilan gue lebih buruk hahahaha... jahat banget ya tapi Allah Maha Baik, Dia ngga ngabulin doa gue yang ngawur, penampilan selanjutnya malah bagus-bangus (yaiyalaaah.. secara gitu mereka nari tarian yang sama dengan tarian yang pas mereka ikutan lomba dengan orang-orang yang sama pula, sementara kita, bener-bener dari NOL *atur napas* *abaikan* )
Diujung acara, kita makan-makan. Horeee.. kata Ka Feby ini bagian yang paling penting, Gue setuju banget, abis makan-makan itu ada pembagian door prize. Gue ngga ngarep soalnya jujur selama gue hidup dan ikut acara yang yang ada doorprize-doorprize an gue ngga pernah dapet. Tapi hari ini emang bener-bener harus jadi hari yang bersejarah buat gue. Gue dapet doorprize walaupun bukan nama gue yang pertama dipanggil harusnya tuh doorpirze yang dapet orang lain tapi karena mereka udah pulang ya.. akhirnya namaku kepanggil. Nunggu giliran cuy hihi .... isinya cuma jam dinding yang "standard" cuma gue seneng bukan kepalang, ini dooprize pertama gueeeee.... *nangis haru* 
Jam Standard :P sengaja gue atur jam nya jadi pukul 03.07 biar kaya di pilem "The Conjuring" hahaha..

Well.. dari peristiwa beberapa hari ini gue belajar banyak, salah satunya ya.. kita ngga akan pernah tau hasilnya sebelum mencoba..dan kalau mau dapet dooprize kita harus bertahan, jangan pulang duluan hihii...
But hari ini gue juga sedih pake banget malah, bukan cuma karena penampilan kita ngga perfect tapi karena seseorang itu ngga liat gue nari, ngga liat 'lenggokkan" gue yang bikin puyeng dan kepala kliyeng-kliyeng.. huhuhu...